RADAR GRESIK – Krisis bahan baku plastik mulai memukul pelaku usaha di Kabupaten Gresik. Kelangkaan pasokan yang memicu lonjakan harga drastis kini mengancam keberlanjutan usaha para distributor hingga pedagang eceran di Kota Pudak.
M. Afnan, pemilik sekaligus distributor di Yasin Plastik PPS Suci, mengungkapkan bahwa kondisi sulit ini sudah terasa sejak awal tahun dan semakin parah pasca Lebaran. Menurutnya, tersendatnya pasokan bahan baku yang bergantung pada impor dari Timur Tengah menjadi akar masalah.
Baca Juga: Modal Membengkak, Pelaku UMKM di Gresik Keluhkan Lonjakan Harga Plastik
"Karena bahan baku sulit, pabrik tidak bisa produksi maksimal. Dampaknya, stok ke kami terbatas dan harga di pasar langsung melonjak tajam," ujar Afnan saat ditemui di tokonya, Sabtu (25/4).
Kenaikan harga terjadi secara bertahap namun signifikan. Jika awalnya hanya naik 10 hingga 20 persen, kini merangkak hingga 40 persen. Bahkan, beberapa jenis produk mengalami kenaikan ekstrem mencapai 80 hingga 100 persen.
Lonjakan harga ini merata di berbagai jenis produk plastik. Afnan merinci, cup plastik ukuran 500 ml yang semula Rp 21.000 per slop kini menyentuh Rp 31.000. Gelas plastik yang biasanya Rp 8.000 kini mencapai Rp 13.000 per pak.
Baca Juga: Kukuhkan Forum Puspa Pinatih, Pemkab Gresik Ajak Perempuan Jaga Binar Cahaya Kartini
Kenaikan paling terasa ada pada kantong plastik kresek. Satu bendel berisi 10 yang sebelumnya dibanderol Rp 45.000, kini melonjak hingga Rp 75.000. "Kenaikan ini sangat memberatkan, baik bagi kami distributor maupun konsumen," imbuhnya.
Selain harga, hambatan lain muncul dari kebijakan pabrik. Jika sebelumnya distributor bisa membeli dengan sistem tempo, kini pabrik mewajibkan sistem Cash Before Delivery (CBD) atau COD tunai.
"Sekarang harus bayar tunai di depan atau pas barang datang. Ini karena pabrik juga berebut bahan baku, jadi siapa yang punya uang tunai, dia yang dapat barang. Kondisinya cukup rumit bagi perputaran modal kami," tegas Afnan.
Meski permintaan sempat tinggi saat momentum Lebaran, Afnan mulai melihat tren penurunan daya beli masyarakat dalam beberapa pekan terakhir. Konsumen mulai menahan belanja karena harga yang sudah dianggap tidak masuk akal.
Untuk menyiasati hal tersebut, Afnan mulai mengedukasi pelanggannya, terutama pelaku UMKM, untuk mengurangi penggunaan plastik. Ia menyarankan konsumen membawa tas belanja sendiri atau memberikan diskon bagi pembeli yang membawa wadah ulang (reusable).
"Kepada toko, saya sarankan kreseknya berbayar. Kalau ke UMKM, saya sarankan jika pelanggan bawa kotak makan sendiri, beri diskon 5 sampai 10 persen. Itu bisa jadi solusi di tengah mahalnya plastik," jelasnya.
Afnan berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis untuk menstabilkan pasokan bahan baku. Ia mengaku khawatir jika kondisi ini terus berlanjut, dirinya terpaksa beralih menjual komoditas lain.
"Kalau stok benar-benar habis, ya mungkin beralih jualan sembako atau fokus ke bahan kue saja. Kami jualan apa yang ada," pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany Akasah