RADAR GRESIK – Ketua DPRD Kabupaten Gresik, Muhammad Syahrul Munir, didapuk sebagai pembicara dalam Seminar Nasional Naskah Nusantara yang berlangsung di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Seminar bergengsi ini diprakarsai oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Manuskrip Media.
Seminar tersebut menjadi forum penting yang mempertemukan para tokoh, akademisi, dan budayawan untuk menelisik kembali hubungan peradaban yang terjalin erat antara Giri (Gresik) dan Lombok.
Kegiatan ini menghadirkan Keynote Speaker Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dan Gubernur NTB Dr. Lalu Muhammad Iqbal. Sementara pengantar diskusi disampaikan oleh Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Dr. Restu Gunawan serta Founder Manuskripedia, Wahyu Muryadi.
Selain Syahrul, sejumlah narasumber lain turut hadir, di antaranya budayawan Lombok T.G. Hasan Basri Marwah, pemerhati budaya Ir. Wahyudi, akademisi UIN Mataram Prof. Dr. H. Jumarim, serta budayawan Sumbawa H. Yadi Surya Diputra.
Seminar ini mengusung tema besar “Giri-Lombok: Kolaborasi Lintas Pilar Menuju Kedaulatan Sejarah dan Budaya Bangsa.” Syahrul menyebut forum tersebut menjadi momentum penting bagi "Diplomasi Kebudayaan Gresik-Lombok" yang secara historis memiliki hubungan panjang, terutama dalam penyebaran Islam.
Syahrul menjelaskan bahwa hubungan Lombok dan Gresik tidak dapat dilepaskan dari sejarah dakwah Sunan Prapen, cucu Sunan Giri, yang menjadi tokoh penting dalam Islamisasi Lombok pada abad ke-16.
Ajaran Islam yang kini mendominasi kehidupan masyarakat Lombok dibawa langsung dari pusat spiritual Giri Kedaton di Gresik.
Sejumlah bukti sejarah seperti Masjid Bayan Beleq dan makam raja-raja Selaparang menjadi indikator kuat pengaruh dakwah Sunan Prapen.
Pola dakwahnya menggabungkan nilai Islam dengan budaya lokal, berlangsung secara damai namun tetap memperlihatkan ketegasan, mulai dari demonstrasi militer, syiar menggunakan rebana, permohonan petunjuk melalui salat sunnah, hingga pendekatan persuasif kepada para penguasa lokal.
Interaksi Sunan Prapen dengan Prabu Rangkesari, penguasa Lombok waktu itu, menjadi titik penting percepatan Islamisasi Lombok.
“Hubungan historis inilah yang harus terus dikaji untuk memperkuat pemahaman tentang perjalanan peradaban kedua daerah,” kata Syahrul.
Lebih lanjut, Syahrul menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Gresik terus mendorong upaya pemajuan kebudayaan melalui regulasi dan program pendidikan, salah satunya melalui Perda Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah serta hadirnya muatan lokal Sejarah Gresik di sekolah-sekolah.
Namun, ia mengakui bahwa pelestarian kebudayaan masih menghadapi tantangan. Mulai dari belum optimalnya rencana induk pariwisata daerah, tumpang tindih kewenangan pelestarian, hingga lemahnya organisasi pengelola wisata.
“Kajian seperti ini penting agar ada afirmasi baru mengenai data dan sejarah Sunan Prapen yang nantinya bisa memperkaya materi muatan lokal Gresik,” ujarnya.
Syahrul berharap seminar ini dapat memperkuat pertukaran ilmu dan kebudayaan antara Gresik dan Lombok. Kajian lintas daerah, menurutnya, bukan hanya memperkaya khazanah keilmuan, tetapi juga menjadi pijakan revitalisasi tradisi dan penguatan identitas budaya bangsa.
“Pelestarian sejarah dan budaya bukan hanya kewajiban satu generasi, tetapi amanah yang harus hidup dari generasi ke generasi,” pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany Akasah