Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Keajaiban di Balik Reruntuhan Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo, Doa, Mimpi, dan Suara dari Bawah Puing

Hany Akasah • Selasa, 7 Oktober 2025 | 14:49 WIB
Evakuasi: Basarnas melakukan evakuasi korban ambruknya musala Ponpes Al Khoziny
Evakuasi: Basarnas melakukan evakuasi korban ambruknya musala Ponpes Al Khoziny

RADAR GRESIK  – Di balik pilu yang menyelimuti tragedi ambruknya bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, tersimpan kisah-kisah dramatis penuh haru — bahkan nuansa mistis — yang membuat bulu kuduk berdiri. Beberapa santri selamat dari maut dengan cara yang tak masuk akal, seolah ada tangan tak terlihat yang melindungi mereka di tengah puing dan debu reruntuhan.

“Sepurane, Rek…” — Permintaan Maaf di Tengah Reruntuhan

Kisah pertama datang dari Zidan, santri muda yang lolos dari maut berkat lubang kecil yang digali teman-temannya. Putra dari Ahmad Zabidi ini sempat ikut mengevakuasi santri lain yang tertimpa bangunan musala sebelum akhirnya terjebak sendiri.


“Anak saya sempat bantu lima orang keluar,” tutur Zabidi dengan mata berkaca. “Tapi setelah itu dia bilang ke teman-temannya, Sepurane yo, Rek. Aku wes gak isoh nolong. (Maaf ya, aku sudah tidak bisa menolong lagi).”

Ucapan itu menjadi perpisahan singkat di tengah reruntuhan, sebelum Zidan akhirnya ditemukan selamat.

Selamat Karena Adzan

Sementara itu, kakak Zidan, Muhammad Ubaid Hamdani (18), lolos dari maut karena keputusan sederhana: istirahat sejenak setelah mendengar azan. Sebelumnya, ia ikut membantu pengecoran lantai tiga musala.
“Begitu dengar azan, dia turun dan duduk. Beberapa menit kemudian, bangunannya runtuh,” kata sang ayah.

Zabidi tak menyesali anaknya ikut membantu membangun musala yang berakhir runtuh. “Itu ladang pahala. Saya juga dulu waktu mondok ikut kerja bakti membangun pondok. Jadi saya ikhlas,” ujarnya lirih.

Tertidur Tiga Hari, Bermimpi di Dunia Lain

Kisah Alfatih, santri yang ditemukan selamat setelah tiga hari tertimbun puing, menyimpan misteri tersendiri. Ia ditemukan masih bernapas di bawah gundukan pasir, wajahnya terlindung lembaran seng.

Saat sadar, Alfatih bercerita bahwa selama tertimbun, dirinya tidak merasa sakit atau sesak, justru seperti “ditidurkan”. Ia bermimpi berada di jalan gelap, naik mobil pick up, dan minum air dari selang.

“Katanya seperti mimpi, tidak sadar waktu. Begitu dibangunkan, dia malah kaget kenapa sudah banyak orang,” cerita ayahnya, Abdul Hanan.

Sambil menunggu kabar anaknya, Hanan tak henti membaca Surat Al-Kahf. Ia yakin ayat itu menjadi penjaga anaknya di bawah reruntuhan. “Saya takut dia kehabisan energi kalau teriak-teriak. Jadi saya terus membaca doa,” katanya dengan suara bergetar.

Anehnya, sebelum musibah, Alfatih pernah bermimpi melihat gedung pondok roboh. Mimpi itu baru dipahami keluarganya setelah tragedi benar-benar terjadi.

Suara dari Dalam Puing

Tak kalah mengguncang adalah kisah Syehlendra Haical. Selama 72 jam terjebak di bawah beton, ia tetap menjawab lirih setiap kali petugas SAR memanggil.


“Dia masih menjawab pelan. Itu jadi tanda ada kehidupan,” kata salah satu relawan.

Saat berhasil ditarik keluar, tubuh Haical penuh luka dan debu. Namun matanya masih terbuka lebar. “Saya masih ingin hidup,” katanya pelan sebelum dibawa ke RSUD R.T. Notopuro.

Diselamatkan karena Pergi ke Kamar Mandi

Kisah Muhammad Zahrawi (17), santri asal Bangkalan, Madura, juga tak kalah ajaib. Ia selamat karena meninggalkan shaf salat Ashar hanya beberapa detik sebelum bangunan roboh.


“Saya keluar untuk pipis. Baru sampai kamar mandi, terdengar gemuruh keras,” tuturnya.

Ketika ia kembali, musala telah rata dengan tanah. “Saya melihat teman-teman saya tertimbun reruntuhan. Saya hanya bisa menangis,” katanya.

Zahrawi masih ingat, sebelum kejadian, salah satu santri sempat memperingatkan bahwa bangunan mulai retak. “Tapi belum sempat disampaikan ke pengurus, sudah keburu waktu salat,” ucapnya.

Doa yang Tak Putus dan Keajaiban yang Nyata

Tragedi ini meninggalkan luka mendalam. Namun di antara tangis dan doa, ada keyakinan bahwa doa para orang tua dan keikhlasan para santri menjadi penyelamat dari maut.


Tim DVI Polda Jatim masih terus bekerja mengidentifikasi para korban. Hingga kini, delapan kantong jenazah telah berhasil diidentifikasi tujuh di antaranya santri, satu lainnya bagian tubuh yang terpisah.

Namun bagi keluarga yang anaknya selamat, tragedi ini menjadi pengingat bahwa hidup dan mati hanya sejarak doa.


“Anak saya masih hidup, mungkin karena doa orang-orang yang tulus,” ujar Zabidi. “Kami percaya, setiap santri yang wafat sudah disambut dengan kemuliaan.”

Editor : Hany Akasah
#Santri #Mimpi #Al Khoziny #Musala #korban #keajaiban #sIDOARJO