Informasi yang dihimpun, kejadian itu berlangsung sekitar pukul 02.00, dini hari, pada Rabu (6/4). Saat itu kondisi jalan sepi, sehingga membuat para remaja lebih leluasa saling menyerang antar kelompok.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, aksi kedua kelompok saling serang itu benar adanya. Namun tidak seperti disebutkan jika penyerangan dilakukan dengan pentungan dan senjata tajam, dua kelompok pemuda itu justru saling pukul dengan menggunakan sarung.
Mat Sukri, salah satu pengendara becak yang ditemui di lapangan menyebut jika kejadian itu berlangsung pukul 02.00 merupakan aksi perang sarung.
"Iya saya lihat sambil bawa sarung dipukul-pukulkan. Tapi karena ada satu orang yang tertinggal akhirnya jadi dikeroyok," ujarnya.
Mat Sukri menepis pemicu tawuran akibat knalpot blong. Sebab dia tidak melihat ada aksi bleyer-bleyeran di lokasi.
"Salah satu kelompok yang lari ke utara saya lihat tidak membawa motor. Sedangkan kelompok lain juga mengejar tidak menggunakan motor," imbuhnya.
Sementara itu, video serupa juga muncul di media sosial, kali ini lokasinya di Desa Pulopancikan. Dalam video itu terlihat dua kelompok melakukan aksi serang dengan menggunakan sarung. Bahkan didalam satu kelompok terdiri hingga 10 orang.
"Ini hanya permainan untuk mengisi waktu sembari menunggu sahur," ujar Nur Afandi.
Hingga kini belum ada laporan resmi, berapa yang terluka dari peristiwa tawuran antar remaja itu.
Kanit Reskrim Polsek Kebomas Iptu Yoyok Mardi membenarkan video tersebut. Namun pihaknya belum bisa mengkonfirmasi perihal konten dalam video tersebut apakah sebuah aksi tawuran atau bukan.
"Yang pasti aksi ini dilakukan dijalan raya dan bisa membahayakan pengguna jalan. Untuk itu agar tidak terulang kami akan meningkatkan patroli jam malam dan pagi" kata Yoyok.
Dia pun mengaku tidak ada pihak atau korban yang melaporkan kejadian ini. Hanya videonya viral di media sosial.
"Sekecil apapun informasi pasti akan kami telusuri," tandasnya. (fir/rof) Editor : Hany Akasah