RADAR GRESIK - Nur Hayati, atau yang akrab disapa Yeti, seorang ibu rumah tangga berusia 47 tahun, telah membuktikan bahwa kepedulian terhadap sesama tidak mengenal batas usia atau profesi. Berawal hanya sebagai kader Posyandu, Yeti kini menjadi ujung tombak dalam upaya penurunan angka stunting di Desa Yosowilangun.
Perjalanan Yeti sebagai kader dimulai pada masa pandemi. Tergerak oleh keprihatinan terhadap kondisi kesehatan anak-anak, beliau menerima tawaran untuk menjadi kader Posyandu Kenanga. Meski awalnya menghadapi berbagai tantangan, Yeti tetap bersemangat menjalankan tugasnya.
Pada tahun 2022, Yeti dipercaya menjadi kader PKK Desa. Tak berhenti sampai di situ, pada Mei 2024, beliau juga bergabung sebagai relawan Satgas Stunting. Dalam peran barunya ini, Yeti berhadapan dengan tantangan yang lebih kompleks, yakni menangani kasus stunting pada anak-anak di desa yang secara ekonomi berada di atas rata-rata.
"Awalnya cukup sulit karena banyak orang tua yang tidak percaya diri dengan program kami. Namun, dengan pendekatan yang tepat dan komunikasi yang baik, akhirnya mereka mau bekerja sama," ujar Yeti.
Yeti tidak hanya memberikan makanan tambahan kepada anak-anak stunting, tetapi juga memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif, MPASI yang tepat, dan menjaga kebersihan.
"Saya merasa sangat bahagia ketika melihat anak-anak yang saya dampingi tumbuh sehat dan bersemangat. Itu adalah penghargaan terbesar bagi saya," tambah Yeti. (rir/han)
Editor : Hany Akasah