Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Habib Jafar Shodiq Meninggal Kecelakaan Maut, Alasan Seluruh Habib dan Ulama Hadiri Haul Habib Abu Bakar di Gresik

Hany Akasah • Selasa, 25 Juni 2024 | 23:26 WIB
KHUSUK: Makam haul Habib Abu Bakar Assegah penuh dengan jemaah baik dari luar kota maupun mancanegara
KHUSUK: Makam haul Habib Abu Bakar Assegah penuh dengan jemaah baik dari luar kota maupun mancanegara

 

RADAR GRESIK-Kecelakaan maut tepatnya terjadu di Jalan Tol Solo-Ngawi, KM 547 A, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, Sabtu (22/6/2024) sekitar pukul 22.30 WIB. Korban meninggal dunia bernama Jafar Shodiq (30) warga Jakarta Barat yang merupakan putra dari Habib Ali Alaydrus.

Kecelakaan maut melibtkan Toyota Innova bernomor polisi B 2824 TQO dan truk tronton bernomor polisi W 9883 UC.

Kronologi kecelakaan terjadi saat korban berkendara dari Jakarta menuju Gresik, Jawa Timur untuk menghadiri acara haul. Korban bersama tiga rekan yang lain mengendarai mobil Toyota Innova.

Setibanya di wilayah Kabupaten Sragen, mobil yang dikendarai korban melaju di belakang truk tronton.

Diduga pengemudi mobil Toyota Innova tersebut kurang konsentrasi sehingga menabrak bagian belakang truk. Akibatnya bagian mobil sebelah kiri menjadi ringsek.

Korban meninggal dunia dengan cedera kepala berat, patah leher, dada kanan lecet, dan paha kaki kanan lecet. Jenazah lalu dibawa ke kamar jenazah RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.

Kanit Gakkum Satlantas Polres Sragen, Iptu Nur Arifin kepada wartawan membenarkan kejadian tersebut. “Betul beliau habib Jafar Shodiq  (yang meninggal,red),” tegasnya.

Sementara itu, Habib Jafar Shodiq merupakan alumni dari Ponpes Dalwa, satu angkatan dengan Al-Habib Hanif bin Adurrahman Al-Atthas. Beliau juga adik ipar dari Al-Habib Ja'far bin Bagir Al-Atthas.

Sekedar diketahui, Mengutip Laduni.id, pada 1293 H saat usianya menginjak 8 tahun, Habib Abu bakar berangkat ke Hadramaut, Yaman untuk menimba ilmu di sana. Belajar ke Tanah Para Waliyullah itu merupakan permintaan nenek dari pihak ibunya, Fathimah binti Abdullah 'Allan.

Selama di Hadramaut, Habib Abu Bakar berguru ke beberapa ulama terkemuka seperti Habib Abdullah bin Umar Assegaf (pamannya), Habib Syeikh bin Umar bin Segaf Assegaf, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (penulis Maulid Simtudduror), Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (mufti di Hadramaut pada zaman itu), dan lainnya.

Selain berguru, Habib Abu Bakar gemar berziarah mengunjungi makam para ulama salaf. Kebiasaan itu terus dilakukan hingga beranjak dewasa.

Baca Juga: Pedagang Banjiri Haul Habib Abu Bakar Assegaf, Berikut Titik Ruas Jalan yang Ditutup di Gresik Kota

Baginya, ulama salaf mendapatkan kedudukan yang tinggi karena selalu memanfaatkan waktunya untuk belajar, beribadah, dan bermunajat kepada Allah SWT.

Bertahun-tahun belajar di Hadramaut, Habib Abu Bakar pulang ke Indonesia pada 1302 H dengan ditemani Habib Alwi bin Segaf Assegaf. Ia sempat menetap di Besuki untuk memperdalam ilmu agama yang diperoleh dari Hadramaut.

Selama tiga tahun ia habiskan waktunya di Besuki. Pada 1305 H ia berpindah ke Gresik di usia 20 tahun.

Selama berpindah ke Gresik Habib Bakar mengunjungi para ulama dan auliya zaman itu. Ia belajar, meminta ijazah, atau berkah kepada para ulama salaf pada zaman itu.

Di antara ulama salaf tersebut adalah Habib Abdullah bin Muhsin al-Attas Empang Bogor, Habib Abdullah bin Ali  al-Haddad Bangil, Habib Ahmad bin Abdullah al-Attas Pekalongan, Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya Surabaya, dan masih banyak lagi.

Setelah bertahun-tahun menimba ilmu agama, Habib Abu Bakar kerap didatangi orang-orang dari berbagai penjuru.

Rumahnya tak pernah sepi dari tamu dengan bermacam-macam tujuan. Ada yang sekadar berkunjung, meminta doa, bahkan meminta solusi melalui Habib Abu Bakar.

Habib Abu Bakar pernah melakukan khalwat selama kurang lebih 15 tahun. Khalwat adalah aktivitas menyepi meninggalkan duniawi dan hanya beribadah kepada Allah SWT.

Setelah itu, kewalian Habib Abu Bakar tak diragukan lagi. Bahkan, para ulama lainya telah membuktikan kewalian Habib Abu Bakar yang berada di tingkatan tertinggi dari para wali lainnya.

Bahkan, Habib Abu Bakar pernah bertemu Rasulullah SAW secara langsung. Karena kewaliannya, Habib Abu Bakar mendapat julukan Al Qutb atau pimpinan para wali.

“Benar adanya bahwa saudaraku Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah sebuah  mutiara  dari  keluarga  Assegaf,  keluarga  yang  memiliki derajat paling tinggi di antara lainnya,” kata Habib Muhammad Al-Muhdhor.

“Habib Abu Bakar adalah  raja  dari  para  Auliya’,  barang  siapa  yang  memandang Habib Abu Bakar terhitung ibadah,” kata Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi Kwitang Jakarta sambil berlinangan air mata di depan semua orang.

Sebagai jalan dakwah, Habib Abu Bakar mendirikan Majelis Rouhah. Majelis taklim ini adalah majelis pertama kali yang berdiri di Gresik. Majelis ini kerap didatangi oleh jemaah dari berbagai penjuru, mulai dari Surabaya, Pasuruan, Jakarta, bahkan sampai luar negeri.

Habib Abu Bakar mengisi majelis ini dengan kajian-kajian kitab karangan ulama salaf atau ulama terdahulu. Kegiatan majelis diadakan di rumahnya pada pagi dan sore hari.

Sebagai seorang wali Allah, Habib Abu Bakar Assegaf memiliki karomah atas izin Allah SWT. Salah satunya menemukan anak pejabat yang hilang diikat di atas pohon oleh jin.

Dikisahkan, datang seorang pejabat yang sedang mencari anaknya yang sudah lama hilang. Pejabat tersebut mendatangi Habib Abu Bakar saat ada pengajian di Masjid Jami'. Pejabat itu berniat menanyakan keberadaan anaknya yang hilang tersebut.
Baca Juga: Komitmen UISI Terhadap Konservasi Lingkungan dan Budaya, Silo Bekas Pabrik Diharapkan Jadi Landmark Baru di Gresik

“Anak itu sudah melakukan suatu kesalahan yang sangat besar, sekarang posisinya diikat di atas pohon oleh Jin penunggu pohon besar di tengah jalan,” kata Habib Abu Bakar.

Pejabat tersebut memohon kepada Habib Abu Bakar agar putranya diselamatkan. Kemudian habib mengajak para jemaah dan penduduk mendatangi pohon besar itu.

"Hai Jin penunggu pohon besar lepaskan anak itu cepat!” pinta habib.

Seketika itu juga anak pejabat itu terlihat di rantai di pohon besar dengan sebelahnya api panas. Semua Mata melihat dengan takut dan kagum, Habib Abu Bakar bisa memperlihatkan dunia jin di siang bolong.

Jin itu menjawab,"Iya Habib, karena kemuliaanmu aku lepaskan anak itu sekarang dan aku kembalikan ke Alam kalian (manusia).” Sekarang pohon itu sudah ditebang untuk dijadikan jalur jalan turun menuju ke arah makam Syekh Maulana Ibrahim.

Karomah lain, suatu hari ada tetangga Habib Abu Bakar sedang berangkat Haji dengan menaiki kapal milik Belanda. Sang tetangga meminta habib agar mendoakan kelancaran hajinya.

Saat dalam perjalanan, kapal yang dinaiki oleh tetangganya tersebut terjadi badai dan ombak besar. Kemudian  kapal  yang  dinaikinya  terombang-ambing. 

Seketika  orang Belanda  meminta  orang-orang  untuk  berdoa  pada  Tuhannya.  Sementar, tetangga Habib Abu Bakar berdoa dan bertawassul pada Habib Abu Bakar.

Tiba-tiba Habib Abu Bakar muncul dari dalam laut  dengan berpakaian lengkap layaknya beliau sedang berada di majelis. Kemudian Habib Abu Bakar mengusap  kapal  tersebut,  seketika  ombak  langsung berhenti.

 Sepulangnya dari haji, tetangganya langsung menemui Habib Abu Bakar ke rumahnya untuk berterima kasih atas kejadian badai waktu itu.

Akan  tetapi, habib malah menyuruh tetangganya untuk pulang seraya berkata, “Diam jangan diberi tahu orang lain, kalau saya sudah wafat baru boleh kau beri tahu orang lain.” (han)

Editor : Hany Akasah
#abu bakar #kecelakaan #jakarta #gresik #Jafar #habib