Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Lebaran Ketupat di Gunung Pentung, Ribuan Peziarah Padati Makam Raden Sakti

Fajar Yuliyanto • Minggu, 29 Maret 2026 | 08:46 WIB
Suasana: Kompleks Makam Raden Sakti di Gunung Pentung, Bungah, dipadati peziarah saat perayaan tradisi Lebaran Ketupat. (Fajar/Radar Gresik)
Suasana: Kompleks Makam Raden Sakti di Gunung Pentung, Bungah, dipadati peziarah saat perayaan tradisi Lebaran Ketupat. (Fajar/Radar Gresik)

RADAR GRESIK – Suasana khidmat nan religius menyelimuti kawasan perbukitan Gunung Pentung, Desa Bungah, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, saat momen Lebaran Ketupat tiba.

Ribuan peziarah dari berbagai penjuru Gresik hingga Lamongan tampak memadati jalan-jalan sempit menuju makam Raden Sakti, tokoh yang diyakini sebagai salah satu pilar penyebaran Islam di pesisir utara Gresik.

Jalanan yang biasanya sunyi mendadak hidup. Hiruk pikuk pedagang bunga tabur, penjaja makanan asongan, hingga lantunan doa dari peziarah menciptakan perpaduan unik antara tradisi spiritual dan pasar rakyat tahunan.

Baca Juga: Gerebek Karaoke di Cerme, Polres Gresik Amankan 93 Botol Miras dan 16 Orang

Namun, di balik keramaian itu, tersimpan kisah pengembaraan dari Tanah Pasundan yang hingga kini masih menyisakan misteri.

Bagi generasi lama di Desa Bungah, sosok yang bersemayam di puncak bukit ini lebih akrab disapa dengan sebutan "Mbah Pentung". Nama Raden Sakti sendiri baru mencuat dan dikenal luas oleh publik dalam beberapa dekade terakhir, tepatnya setelah tahun 1990-an.

Pemerhati seni dan budaya Gresik, Kris Aji, mengungkapkan bahwa berdasarkan penelusuran dokumen lama dan cerita tutur para sesepuh, Raden Sakti diyakini memiliki garis keturunan dari Prabu Siliwangi, raja agung Kerajaan Pajajaran. Ia disebut berasal dari wilayah Hariyan Kencana, Panjalu, Ciamis, Jawa Barat.

Baca Juga: Rajut Kebersamaan, Forkopimcam dan Tokoh Agama Kebomas Gelar Halalbihalal

“Dalam beberapa catatan, Raden Sakti dikenal sebagai sosok yang gemar berkelana. Perjalanannya mencari jati diri membawanya hingga ke wilayah Bungah,” ujar Kris Aji.

Di tempat yang kini dikenal sebagai Gunung Pentung inilah, sang Raden menemukan ketenangan, mendirikan padepokan, dan perlahan mengajak masyarakat sekitar yang saat itu masih menganut kepercayaan Hindu-Buddha untuk mengenal Islam.

Di dalam cungkup utama, Raden Sakti tidak sendirian. Terdapat beberapa pusara yang diyakini sebagai para pengikut setianya atau cantrik, yakni Mbah Gampang, Mbah Mireng, Mbah Maryam, dan Mbah Singo Rono. Di sekitar kompleks juga tersebar makam tokoh-tokoh pendukung lainnya seperti Mbah Cukul, Mbah Asiman, hingga Mbah Gondang.

Baca Juga: Jamin Keselamatan Mudik 2026, Satlantas Polres Gresik Gelar Rampcheck Gabungan di Tol Wringinanom

Kini, Gunung Pentung telah bertransformasi dari tempat yang dulunya dianggap angker menjadi destinasi ziarah yang rapi dan terawat. Juru kunci makam, Huda, menyebutkan bahwa peziarah datang silih berganti setiap hari tanpa putus.

“Banyak yang datang karena mendapat isyarah atau petunjuk dari guru mereka. Ada yang sekadar berdoa, ada pula yang menjalani tirakat dengan bermalam hingga berhari-hari di sini,” jelas Huda.

Puncak keramaian makam ini terjadi bertepatan dengan Hari Raya Ketupat, yang juga dirayakan sebagai haul Raden Sakti. Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dengan agenda istighosah, hadrah, tahlil, hingga ceramah agama.

Baca Juga: Gagal Balik, Puluhan Warga Bawean Terpaksa Gigit Jari Akibat Kehabisan Tiket

Para peziarah yang datang tidak hanya berasal dari wilayah Bungah, tetapi juga merambah ke Kecamatan Manyar, Sidayu, Dukun, hingga Kabupaten tetangga, Lamongan. Kehadiran mereka membawa berkah ekonomi bagi warga setempat, mulai dari pedagang kembang hingga sektor transportasi lokal.

Meski catatan sejarah formal tentang Raden Sakti masih terbatas dan lebih banyak hadir dalam bentuk legenda, antusiasme masyarakat membuktikan bahwa warisan spiritual sang pengelana tetap hidup. Kegiatan rutin ini pun diproyeksikan dapat terus berkembang menjadi agenda tetap wisata religi unggulan di Kecamatan Bungah. (jar/han)

Editor : Hany Akasah
#ziarah #lebaran #gresik #ketupat #bungah