RADAR GRESIK – Tradisi Kupatan yang jatuh sepekan setelah Idulfitri mulai terasa geliatnya di Kabupaten Gresik. Warga kini mulai sibuk mempersiapkan segala perlengkapan, terutama janur kelapa untuk membuat anyaman ketupat yang menjadi hidangan utama dalam momen penutup puasa sunnah Syawal tersebut.
Di Desa Suci, Kecamatan Manyar, aktivitas warga menganyam janur sudah mulai terlihat di teras-teras rumah. Tradisi ini bukan sekadar urusan kuliner, melainkan simbol silaturahmi dan permohonan maaf antarwarga.
Salah satu warga Desa Suci, Murthosiah, mengungkapkan bahwa permintaan janur meningkat tajam menjelang hari H. Hal ini pun berdampak pada fluktuasi harga di pasar maupun pedagang rumahan.
Baca Juga: Hari Pertama Masuk Kerja, Bupati dan Wabup Gresik Gelar Open House Sederhana di Rumah Dinas
"Sekarang warga sudah mulai beli janur. Untuk yang belum dianyam, harganya sekitar Rp30.000 per ikat isi 75 biji. Kalau beli satuan sekitar Rp1.000 per biji," ujar Murthosiah, Kamis (26/3).
Bagi warga yang tidak ingin repot menganyam sendiri, tersedia pula ketupat kosong yang sudah dibentuk.
Untuk ketupat kosong dihargai Rp2.000 per biji, sedangkan ketupat matang (isi nasi/lepet) dihargai Rp4.000 per buah.
"Kalau semakin dekat hari H, harganya biasanya bisa semakin mahal," tambahnya.
Baca Juga: Kurang Waspada Saat Menyeberang, Dua Pemotor Terlibat Kecelakaan di Duduksampeyan Gresik
Secara filosofis, Murthosiah menjelaskan bahwa kata "Kupat" berasal dari istilah bahasa Jawa ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan. Tradisi ini menjadi sarana bagi warga untuk saling memaafkan dengan tulus.
Di Desa Suci sendiri, perayaan Kupatan memiliki keunikan tersendiri yang dikenal dengan Tradisi Brahatan. Dalam tradisi ini, para pria membawa tumpeng nasi lengkap dengan lauk-pauk, ketupat, dan lepet ke masjid pada pagi hari.
"Pagi-pagi bapak-bapak ke masjid membawa tumpeng. Di sana ada doa bersama, makan bersama, lalu dibagikan ke warga yang lain," jelasnya.
Selain jamuan makan untuk tamu yang bersilaturahmi ke rumah-rumah, kemeriahan Kupatan di wilayah Manyar juga kerap diwarnai dengan aksi udik-udikan.
Tradisi menebar uang koin ini menjadi momen yang paling dinantikan anak-anak dan warga sekitar sebagai bentuk syukur dan berbagi kebahagiaan di bulan Syawal. (jar/han)
Editor : Hany Akasah