Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo mengatakan, inovasi ini dinamakan
SS Slundar Slundur. Inovasi ini sukses memanfaatkan limbah padat hasil kolam Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sebagai bahan baku filler pada Pupuk NPK.
"Berdasarkan perhitungan verifikasi kinerja keuangan, penerapan inovasi tersebut menghasilkan penghematan sebesar Rp 2,9 miliar dalam setahun," kata Dwi.
Selin inovasi pengolahan limbah, lanjut Dwi, ada beberapa inovasi unggulan lainnya sepanjang tahun lalu. Di antaranya GIO Digital Office yang mampu menurunkan frekuensi masalah penciptaan naskah dinas dan mempercepat prosesnya. Inovasi tersebut mampu menyumbangkan penghematan sebesar Rp 839,6 juta dalam waktu 13 bulan. Selanjutnya, inovasi dari GIO Fleksi berhasil menurunkan 50 persen downtime Pabrik Urea 1A. Inovasi ini mampu menghasilkan potensi penghematan hingga Rp252 miliar dalam waktu tujuh bulan.
"Kemudian, SS kuantitatif mampu menurunkan jumlah Pupuk ZA yang tidak sesuai spesifikasi, dari 46 ribu ton menjadi 0 ton dengan metode volumetri, sehingga mengurangi potensi kerugian perusahaan akibat keluhan dari end-user," jelas Dwi
Dia mengakui pandemi covid-19 berdampak besar pada sektor industri. Namun, dengan inovasi-inovasi tersebut perusahaan mampu bertahan di tengah ketidakjelasan situasi ekonomi.
“Pandemi covid-19 di Indonesia tahun lalu memasuki gelombang kedua, lonjakan kasusnya pun cukup tinggi, pemerintah juga menerapkan pembatasan sosial. Kondisi ini memang berdampak bagi dunia industri. Alhamdulillah, kondisi ini justru semakin memacu Insan di Petrokimia Gresik untuk terus berinovasi,” pungkasnya. (fir/han) Editor : Hany Akasah