Maklum di desa berpenduduk sekitar 2 ribu jiwa itu banyak tumbuh pohon siwalan yang menghasilkan legen yang kalau diproses lagi bisa menjadi tuak yang memabukkan. Karena itulah, saat itu Desa Hendrosari dicap kategori desa merah.
“Dulu desa saya ini dijuluki desa melbu waras muleh gendeng (masuk sehat pulang gila). Karena banyak orang datang sadar tapi pulangnya mabuk,” kata Asno Hadi.
Namun saat dirinya mulai menjabat Kades ia bersama warganya lalu berkomitmen untuk mengubah citra buruk yang melekat pada desanya. Asno bersama warga menggagas wisata desa kuliner. Tahun 2019 desa kami menjadi juara nasional lomba Pengelolaan Sampah Terpadu,” jelasnya.
Asno melanjutkan ketika tim panitia dari Jakarta datang berkunjung ke Hendrosari, mereka kagum dengan banyaknya pohon siwalan yang tidak banyak dimiliki desa lainnya. Saat itu bantuan yang dikucurkan Mendes Abdul Halim untuk Desa Hendrosari sebesar Rp 1,3 miliar.
Dari situlah kemudian dibangun Desa Wisata Lontar Sewu. Selain mengembangkan Lontar Sewu, Asno juga bekerjasama dengan rumah makan Berkah Ilaahi (BI) mengundang tim peneliti, akademisi serta ulama untuk meneliti khasiat minuman legen. (yud/han) Editor : Hany Akasah