RADAR GRESIK – Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah yang tinggal menghitung hari, antusiasme masyarakat Kabupaten Gresik mulai memuncak. Berbagai persiapan khas seperti ziarah makam, berburu pakaian baru, hingga menyajikan kudapan manis seperti kastengel, nastar, dan putri salju telah menjadi pemandangan umum.
Namun, di balik keriuhan perayaan tersebut, terselip risiko kesehatan yang patut diwaspadai, terutama ancaman penyakit stroke yang sering kali mengintai akibat pola makan yang tidak terkontrol saat Lebaran.
Pakar saraf yang berpraktik di RSUD Ibnu Sina Gresik dan RS Semen Gresik, dr. Heri Munajib, SpN, mengingatkan bahwa stroke tetap menjadi salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian, baik secara global maupun di Indonesia.
Baca Juga: Siaga Malam Takbir: Kapolres Terjunkan Ratusan Personel Gabungan, Imbau Warga Takbiran di Masjid
Merujuk pada data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi penyakit ini cenderung meningkat dan mulai menyerang kelompok usia yang lebih muda. Dalam penjelasannya, dr. Heri menekankan bahwa pemahaman mengenai jenis stroke sangat penting bagi masyarakat awam.
“Stroke terbagi menjadi dua jenis, yakni stroke pendarahan dan stroke sumbatan. Sekitar 70–80 persen kasus merupakan stroke sumbatan, yang dipicu oleh berbagai faktor risiko,” ujar dr. Heri Munajib, SpN saat memberikan edukasi kesehatan kepada media.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa terdapat faktor risiko yang tidak dapat dihindari seperti usia dan keturunan, namun banyak pula faktor yang sebenarnya bisa dikontrol.
Baca Juga: Dorong Kesejahteraan Lewat Zakat, DPRD Gresik Masifkan Sosialisasi Perda Pengelolaan Dana Keagamaan
Hal-hal seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, hingga pola makan yang buruk merupakan pemicu utama yang sering kali terabaikan saat momen hari raya. Menurutnya, tubuh yang sudah mulai stabil selama berpuasa Ramadan justru rentan mengalami "kejutan" saat Lebaran tiba.
“Tradisi silaturahmi sering membuat orang tidak sadar dengan apa yang dikonsumsi. Hidangan seperti opor ayam, rendang, dan kue manis memang menggugah selera, tetapi jika berlebihan dapat memicu hipertensi, kolesterol tinggi, dan peningkatan gula darah yang berujung pada stroke,” jelas dr. Heri mengenai fenomena makan besar saat Lebaran.
Selain makanan berlemak, ia juga menyoroti bahaya minuman berkarbonasi yang sering tersaji di meja tamu. Konsumsi berlebihan minuman jenis ini tidak hanya mengganggu metabolisme, tetapi juga berisiko pada pengeroposan tulang.
Baca Juga: Aksi Heroik Satlantas Polres Gresik, Kejar Bus Mudik hingga Tol Tandes Demi Pasutri yang Tertinggal
Sebagai langkah antisipasi, dr. Heri memperkenalkan metode BEFAST (Balance, Eyes, Face, Arms, Speech, Time) agar masyarakat bisa mengenali gejala awal stroke secara mandiri dan cepat.
“Jika menemukan gejala tersebut, segera bawa ke Instalasi Gurat Darurat rumah sakit terdekat. Penanganan cepat sangat penting karena waktu adalah otak,” tutur dokter spesialis neurologi tersebut dengan tegas.
Guna menjaga agar momen hari raya tetap ceria tanpa gangguan kesehatan, dr. Heri membagikan sejumlah tips praktis. Langkah-langkah tersebut meliputi pengendalian porsi makan, tetap aktif bergerak dengan target minimal 7.000 langkah per hari, serta mencukupi kebutuhan air putih.
Baca Juga: Warga Binaan Rutan Gresik Khatam Al-Qur'an 10 Kali, Kepala Rutan Hadiahi Songkok Baru
Ia juga mengingatkan pentingnya mengelola stres, terutama bagi golongan muda yang kini kian rentan terkena stroke.
“Hari Raya Idul Fitri seharusnya menjadi momen kebahagiaan dalam mempererat silaturahmi, bukan menjadi awal munculnya masalah kesehatan. Dengan pola hidup sehat, masyarakat dapat menikmati Lebaran dengan aman dan nyaman,” pungkas dr. Heri Munajib menutup edukasinya. (yud/han)
Editor : Hany Akasah