GRESIK-Dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) pembangunan desa berkelanjutan, Dr Rusdiyanto, SE,. M. Ak,. CH,. CHt langsung turun ke masyarakat dengan memberikan pendampingan ke masyarakat di Desa Semampir Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik. Doktor Fakultas Ekonomi Universitas Gresik (Unigres) tersebut memberikan workshop Strategi Penguatan UMKM di Desa Semampir Menuju Desa Mandiri.
Dr Rusdiyanto, SE,. M. Ak,. CH mengatakan, Sustainable Development Goals Desa merupakan role pembangunan berkelanjutan yang akan masuk dalam program prioritas penggunaan Dana Desa Tahun 2021.
“Desa disebut mandiri jika mampu mendayagunakan dan mengoptimalkan potensi sumber daya ekonomi, sosial dan lingkungan hidup untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Alumni Doktoral Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.
Maka dari itu, desa harus mampu menemukan pola pengembangan pedesaan terutama jika fokus dalam UMKM. Bisa dengan berbasis konsep terintegrasi dari produksi, pengelolahan produk, proses pemasaran, layanan dan dukungan lainnya.
Menurut Pria asli Madura, Desa harus memiliki bahan dasar jika ingin menuju Desa Mandiri. Yakni, punya potensi Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia, Potensi sarana dan prasarana, punya spesifikasi produk yang menonjol pada desa terserbut, kesadaran dan dukungan warga, pemberdayaan perempuan, tokoh penggerak dalam kegiatan sosial yang memiliki pengaruh besar hingga kesadaran masyarakat akan lingkungan hidup.
“Kalau kata bupati Gresik harus kolaborasi untuk menuju Desa Mandiri,” kata Rusdiyanto.
Ia pun memaparkan beberapa tantangan jika masyarakat ingin menuju Desa Mandiri. Di antaranya, kurangnya kesesuaian antara dana yang tersedia yang dapat diakses oleh UMKM, tidak adanya pendekatan yang sistematis dalam pendanaan UMKM, Biaya transaksi yang tinggi, yang disebabkan oleh prosedur kredit yang cukup rumit sehingga menyita banyak waktu sementara jumlah kredit yang dikucurkan kecil. Kurangnya akses ke sumber dana yang formal, baik disebabkan oleh ketiadaan bank di pelosok maupun tidak tersedianya informasi yang memadai.
Bunga kredit untuk investasi maupun modal kerja yang cukup tinggi. Banyak UMKM yang belum dpt mengakses produk perbankan, baik disebabkan belum adanya manajemen keuangan yang transparan maupun kurangnya kemampuan manajerial dan finansial. ”Semua tantangan itu pastinya bisa dilalui. Syaratnya, warga harus memiliki tekat kuat dan keinginan menciptakan lapangan kerja secara mandiri serta mewujudkan kesejahteraan warga,” kata Rusdiyanto. (han)
Editor : Hany Akasah