Dari Gresik Movie, dua film andalan yang akan ditampilkan adalah "Gemintang" (2021) dan "Salah Melihat Jalan Surga" (2019). Sutradara sekaligus penulis naskah, Irfan Akbar Prawiro, menyatakan bahwa film-film ini membawa pesan sosial dan spiritual.
"Kami berharap karya ini menjadi cara lain memperkenalkan Gresik dan Jawa Timur ke kancah internasional. Film Gemintang sendiri sebelumnya telah berhasil membawa kami ke Festival Film Cannes di Prancis," kata Irfan.
Di balik pencapaian ini, para sineas muda Gresik menghadapi tantangan besar, terutama terkait dukungan dan fasilitas. Irfan Akbar berharap ada perhatian serius dari pemerintah dalam mendukung perkembangan seni film.
"Promosi Gresik tidak harus selalu dengan mengundang bule datang ke sini, tetapi juga bisa lewat karya kita yang diputar di luar negeri," ujarnya.
Dicky Firmanzah dari komunitas Fonemik, yang meloloskan tiga film, mengungkapkan kegembiraannya namun terkendala biaya.
"Biaya untuk berangkat ke Australia cukup mahal dan sepertinya tidak ada anggaran untuk memberangkatkan kami," jelas Dicky.
Sementara itu, Vicky Firmansyah, pembimbing Nyala Jingga Production yang juga meloloskan film "Cahaya", menyoroti minimnya fasilitas.
"Kalau ingin bikin film, biasanya harus merogoh kocek pribadi yang biayanya tidak sedikit. Saat ini, kami belum punya peralatan lengkap," terangnya.
Ia juga meminta kemudahan dalam meminjam fasilitas umum, seperti Gedung Nasional Indonesia (GNI), untuk kegiatan pemutaran film.
Vicky menambahkan, jika para sineas muda mendapatkan dukungan seperti ini, mereka bisa lebih fokus pada karya daripada memikirkan biaya.
"Harapan saya, setidaknya ada kemudahan peminjaman fasilitas. Itu sudah sangat membantu kami berkembang, sehingga anak-anak bisa lebih fokus ke karya," pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany Akasah