RADAR GRESIK – Di sebuah ruang sederhana di dalam Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Gresik, suasana siang itu terasa berbeda. Tangan-tangan yang biasanya terbatasi jeruji besi, kini sibuk merangkai bilah bambu dan menempelkan kertas warna-warni. Di atas kertas-kertas itu, mereka menggoreskan kisah kehidupan dalam garis-garis sederhana.
Dari jemari para warga binaan ini, satu per satu Damar Kurung mulai terbentuk. Bagi mereka, karya ini bukan sekadar lampion penghias malam, melainkan simbol harapan baru yang menyala dari balik tembok tinggi.
Program pelatihan pembuatan Damar Kurung ini digelar oleh Rutan Gresik sebagai bagian dari pembinaan kemandirian. Dalam kegiatan tersebut, para warga binaan mendapatkan pendampingan langsung mengenai sejarah hingga teknik praktik pembuatan kerajinan khas Kota Pudak tersebut.
Baca Juga: Dukungan Meluber, Fauzi Noer Resmi Daftar Calon Ketua Percasi Gresik Periode 2026-2030
Kepala Rutan Gresik, Eko Widiatmoko, menegaskan bahwa pelatihan ini dirancang bukan sekadar untuk mengisi waktu luang, melainkan sebagai upaya membekali warga binaan dengan keterampilan yang bernilai ekonomi dan seni.
“Kami ingin warga binaan memiliki bekal yang nyata saat kembali ke masyarakat nanti. Mereka tidak hanya belajar membuat kerajinan, tetapi juga memahami nilai budaya luhur yang terkandung di dalamnya,” ujar Eko.
Damar Kurung sendiri merupakan warisan budaya khas Gresik yang sarat makna. Lampion berbentuk kotak ini identik dengan tradisi menyambut malam Lailatul Qadar. Melalui goresan motifnya, Damar Kurung merekam aktivitas sosial, religi, hingga keseharian masyarakat pesisir Jawa Timur.
Baca Juga: Optimalkan Peran Fraksi, DPC PKB Gresik Buka Rumah Aspirasi Setiap Hari Jumat
Dalam pelatihan tersebut, para warga binaan diajak menyelami filosofi setiap motif sebelum mempraktikkannya secara langsung. Mulai dari menyusun rangka hingga menggambar ornamen khas dilakukan dengan penuh ketelitian. Setiap goresan kuas seolah menjadi ekspresi diri yang selama ini terpendam.
Eko menambahkan, pembinaan ini menyentuh dua aspek krusial: keterampilan ekonomi dan penguatan karakter.
“Kegiatan ini melatih kreativitas dan kesabaran, sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal agar mereka menjadi pribadi yang lebih mandiri,” tambahnya.
Melalui pendekatan kreatif dan edukatif, Rutan Gresik mencoba mengubah masa pidana menjadi proses pembelajaran yang produktif. Kini, cahaya Damar Kurung tidak hanya menerangi sudut-sudut rutan, tetapi juga menyalakan optimisme.
Ketika pintu rutan terbuka suatu hari nanti, mereka diharapkan tidak pulang dengan tangan kosong, melainkan membawa keterampilan dan semangat baru untuk memulai kehidupan yang lebih baik di tengah masyarakat. (yud/han)
Editor : Hany Akasah