Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Mengaktualisasikan Nilai-Nilai Kartini di Era Algoritma dan Tantangan Kesetaraan Digital

Riri Masfardian • Selasa, 21 April 2026 | 19:28 WIB
Oleh : Kepala Dinas KBPPPA Gresik, dr. Titik Ernawati M.HKes. (dok/Radar Gresik)
Oleh : Kepala Dinas KBPPPA Gresik, dr. Titik Ernawati M.HKes. (dok/Radar Gresik)
RADAR GRESIK - Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai momentum untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak dan kesetaraan perempuan.
 
Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, Indonesia saat ini mengalami peningkatan signifikan dalam penggunaan internet. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2024 sebanyak 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet.
 
Bahkan, survei lain menunjukkan angka penetrasi internet mencapai sekitar 79,5% populasi. Hal ini menunjukkan bahwa ruang digital telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat, termasuk perempuan.
 
Baca Juga: Kartini Modern dan Tabungan Jiwa, Menenun Generasi Emas melalui Jalan Ikhlas
 
Namun demikian, peningkatan akses tersebut belum sepenuhnya diiringi dengan kesetaraan yang inklusif. Data menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi tantangan dalam aspek literasi dan pendidikan dibandingkan laki-laki.
 
Kondisi ini menjadi indikator bahwa akses terhadap teknologi belum sepenuhnya diikuti oleh kesiapan kapasitas sumber daya manusia, khususnya bagi perempuan di tingkat akar rumput.
 
Pada masa Kartini, tantangan utama perempuan adalah keterbatasan akses terhadap pendidikan dan ruang berekspresi. Kini, perempuan hidup di era yang menawarkan berbagai kemudahan melalui teknologi digital. Informasi dapat diakses secara luas, peluang terbuka di berbagai bidang, serta ruang untuk berkarya semakin berkembang. Namun, kemudahan tersebut tidak serta-merta dirasakan secara merata oleh seluruh perempuan.
 
Baca Juga: Anita Rahmawati dan Visi Cantik Berdaya, Ubah Bisnis Beauty Bar Menjadi Inkubator Kemandirian Ekonomi Perempuan Gresik
 
Bagi perempuan di wilayah perkotaan, akses terhadap teknologi mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, bagi perempuan akar rumput yang berada di pedesaan, komunitas marginal, atau dengan keterbatasan ekonomi transformasi digital masih menjadi tantangan tersendiri.
 
Keterbatasan akses internet, rendahnya literasi digital, serta beban peran domestik yang tinggi seringkali membuat mereka tertinggal dalam arus perkembangan zaman.
 
Di era algoritma, arus informasi yang diterima masyarakat tidak lagi sepenuhnya netral. Terdapat sistem yang bekerja dalam menentukan konten apa yang muncul dan bagaimana informasi tersebut disajikan. Dalam kondisi ini, perempuan dituntut untuk memiliki literasi digital yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga kritis.
 
Baca Juga: Imanda Ratining Putri Membawa Semangat Kartini dari Industri Lokal Gresik Menuju Pasar Global
 
Kemampuan untuk memahami, menyaring, dan memanfaatkan informasi menjadi kunci agar perempuan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga subjek yang berdaya dalam ruang digital.
Di sisi lain, transformasi digital juga membuka peluang besar bagi perempuan untuk berkembang.
 
Banyak perempuan yang kini mampu membangun usaha, mengembangkan kreativitas, serta menyuarakan gagasan melalui platform digital. Bahkan, peningkatan literasi keuangan nasional yang mencapai 65,43% pada tahun 2024 menunjukkan adanya peluang besar bagi perempuan untuk terlibat dalam ekonomi digital.
 
Meskipun demikian, berbagai tantangan masih perlu dihadapi. Di ruang digital, perempuan juga menghadapi risiko baru, seperti kekerasan berbasis gender online. Tercatat terdapat 1.791 kasus kekerasan berbasis gender online sepanjang 2024, yang menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menegaskan bahwa ruang digital belum sepenuhnya aman bagi perempuan.
 
Baca Juga: Sri Subaidah, Sosok Kartini Hijau di Balik Misi Penyelamatan Lingkungan Gresik
 
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan langkah konkret yang dapat dilakukan secara berkelanjutan dan inklusif. Peningkatan literasi digital bagi perempuan menjadi hal yang sangat penting, tidak hanya dalam kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga dalam memahami cara kerja informasi di ruang digital.
 
Pelatihan literasi digital perlu dirancang secara sederhana, aplikatif, dan kontekstual, misalnya melalui kegiatan pelatihan penggunaan smartphone bagi ibu rumah tangga, pendampingan pemanfaatan media sosial untuk pemasaran produk UMKM, serta edukasi sederhana tentang cara mengenali hoaks dan menjaga keamanan data pribadi.
 
Di tingkat komunitas, program ini dapat diintegrasikan melalui kegiatan yang sudah ada, seperti pelatihan di kelompok PKK, posyandu, atau kelompok usaha perempuan, sehingga lebih mudah diakses oleh perempuan akar rumput.
 
Baca Juga: Tekan Angka Masalah Gizi, Lintas Sektor Ujungpangkah Gresik Perkuat Sinergi PMT Berbahan Pangan Lokal
 
Contoh konkret lainnya adalah pelatihan pembuatan konten sederhana untuk promosi produk lokal, penggunaan aplikasi pembayaran digital seperti QRIS untuk memudahkan transaksi, serta pendampingan membuka toko online melalui platform yang mudah digunakan. Selain itu, edukasi tentang etika bermedia sosial dan pencegahan kekerasan berbasis gender online juga menjadi bagian penting agar perempuan dapat merasa aman dalam ruang digital.
 
Pendekatan berbasis komunitas ini dapat diperkuat dengan peran kader lokal atau fasilitator digital yang mendampingi secara berkelanjutan, sehingga perempuan tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga kepercayaan diri untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
 
Baca Juga: Pernikahan Anak: Krisis Kesehatan, Kegagalan Pendidikan dan Lingkaran Setan Kemiskinan
 
Dukungan dari berbagai pihak, baik keluarga, masyarakat, maupun pemerintah, menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem yang inklusif dan memberdayakan. Dengan langkah-langkah tersebut, perempuan tidak hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, tetapi juga berperan aktif dalam membentuk arah perubahan yang lebih setara dan berkeadilan.
 
Hari Kartini seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai peringatan seremonial, tetapi juga sebagai momentum untuk bergerak dan berkembang bagi seluruh perempuan tanpa terkecuali. Perempuan masa kini, baik di perkotaan maupun di akar rumput, memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan.
 
Pada akhirnya, perempuan bukan hanya bagian dari perubahan, tetapi juga penggerak utama perubahan itu sendiri. Dengan semangat Kartini yang terus hidup dan kemampuan beradaptasi di era digital, perempuan Indonesia dari berbagai lapisan memiliki kekuatan untuk melangkah maju, menciptakan peluang, dan membangun masa depan yang lebih inklusif dan berkeadilan. (han) 
Editor : Hany Akasah
#Dinas KBPPPA #gresik #kartini #digital #PEREMPUAN