Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Freeport Membangun Masa Depan Gresik, Dari Grup WA Desa, Kisah Perjalanan M Mufti Sulchi Menjadi Rigger Profesional

Muhammad Firman Syah • Sabtu, 4 Januari 2025 | 14:31 WIB

 

Terlatih : Para peserta pelatihan rumah vokasi Gresik bareng PT Freeport Indonesia foto bersama dan siap diserap perusahaan di kota pudak.
Terlatih : Para peserta pelatihan rumah vokasi Gresik bareng PT Freeport Indonesia foto bersama dan siap diserap perusahaan di kota pudak.

RADAR GRESIK - Berbagai kisah perubahan hidup masyarakat lokal mulai terukir dengan keberadaan Smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik.

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan, PTFI bekerja sama dengan Rumah Vokasi Gresik menggelar pelatihan kerja untuk masyarakat sekitar smelter.

Program ini dirancang sebagai solusi jangka panjang untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal yang sebelumnya banyak diisi oleh tenaga dari luar daerah.

Salah satu kisah inspiratif datang dari seorang pemuda bernama M. Mufti Sulchi. Usianya baru 24 tahun, namun perjuangannya untuk mengubah hidup sudah terlihat jelas.

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara pasangan M. Imam dan Musawani yang kesehariannya bergelut sebagai kuli bangunan, Mufti membuktikan bahwa tekad dan kesempatan bisa mengubah segalanya.

Ketika ia kehilangan pekerjaan sebagai helper elektrikal pada Agustus 2024, peluang pelatihan dari Rumah Vokasi Gresik yang diumumkan melalui grup aplikasi pesan instan WhatsApp RT menjadi harapan baru baginya.

M. Mufti Sulchi peserta pelatihan rumah vokasi PT Freeport Indonesia.
M. Mufti Sulchi peserta pelatihan rumah vokasi PT Freeport Indonesia.

Dengan latar belakang sebagai alumnus Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Lamongan, Mufti memilih pelatihan rigger (juru ikat) meskipun awalnya ia menganggap pekerjaan ini sederhana.

Namun, pelatihan selama sepekan membuka wawasan baru bagi Mufti. Ia belajar teknik mengikat yang aman, perhitungan berat beban, pengenalan alat bantu angkat, hingga keselamatan kerja di sekitar crane.

Melalui pendekatan yang matang, PTFI memulai perjalanan ini sejak awal tahun 2023 dengan langkah pertama berupa pemetaan dan kajian mendalam terhadap kebutuhan masyarakat di sembilan desa sekitar smelter.

"Kami menginisiasi program Rembuk Akur, sebuah diskusi intensif untuk menggali keinginan dan kebutuhan masyarakat. Dari sini, kami menyusun program-program yang tak hanya menjawab kebutuhan sekarang, tapi juga membangun keberlanjutan untuk masa depan," tutur Nana.

Dari hasil diskusi tersebut, lahirlah tiga pilar utama tanggung jawab sosial PTFI yakni Bina Manusia, Bina Lingkungan, dan Bina Ekonomi. Ketiga pilar ini dijabarkan ke dalam tujuh program turunan, mulai dari pelatihan kerja, pelestarian lingkungan, sanitasi, kesehatan, hingga pengelolaan sampah dan pengembangan UMKM.

Pelatihan kerja menjadi salah satu prioritas utama, mengingat banyaknya tenaga kerja di sekitar wilayah operasional yang sebelumnya hanya menempati posisi unskilled.

Banyak posisi kerja yang akhirnya diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah. Kondisi ini menjadi dorongan kuat bagi PTFI untuk segera meluncurkan program pelatihan kerja sebagai solusi jangka panjang.

 Hasilnya, dalam waktu tiga bulan sejak pelatihan dimulai, keberhasilan sudah mulai tampak. Bahkan sebelum program selesai, beberapa peserta sudah diterima bekerja di berbagai sektor industri.

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa program ini tidak hanya memberikan keterampilan, tetapi juga peluang nyata untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

"Kami tidak ingin program tanggung jawab sosial ini hanya bersifat jangka pendek. Kemandirian masyarakat adalah indikator keberhasilan kami. Itulah mengapa kami merancang program ini dengan pendekatan berkelanjutan," pungkasnya. (fir/han)

Editor : Hany Akasah
#kuli bangunan #mufti #Smelter #FPTI #Freeport #lokal #gresik #tenaga kerja #Masyarakat #KEK