Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Freeport Ajak Jurnalis Radar Gresik ke Papua Jajal Bus Kerinduan, Kendaraan Anti Peluru Khusus Karyawan

Muhammad Firmansyah • Rabu, 11 Oktober 2023 | 23:16 WIB

 

Jurnalis Radar GResik M Firmansyah mencoba bus Kerinduan yang Anti peluru saat mengunjungi Freeport di Papua
Jurnalis Radar GResik M Firmansyah mencoba bus Kerinduan yang Anti peluru saat mengunjungi Freeport di Papua

 

 

 

TIMIKA- Keberadaan proyek smelter PT Freeport Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Intregrated Industrial Port Estate (JIIPE) Kecamatan Manyar diharapkan tidak hanya memberikan nilai tambah provinsi Jawa Timur khususnya Kabupaten Gresik.

Lebih dari itu Freeport Indonesia diyakini menggerakkan roda perekonomian Kota Wali semakin kencang setelah beroperasi penuh pada 2024 mendatang.

 Baca Juga: Aktivitas Bongkar Muat Pelabuhan Gresik Kian Menggeliat

Radar Gresik menjadi media lokal yang mendapatkan undangan ekslusif berkunjung dan melihat lebih dekat area operasi pertambangan PT Freeport Indonesia di distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.

 

Jurnalis Radar Gresik Muhammad Firmansyah  diberangkatkan menuju Papua Tengah pada Selasa (10/10) pukul 06.20 WIB dengan menggunakan pesawat milik PT Freeport Indonesia yang dioperasikan oleh Airfast Indonesia. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, rombongan tiba di Bandara Mosez Kilangin Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah.

 Baca Juga: Hari ini, 3.000 Siswa SMP di Gresik Ikuti Kegiatan Sinau Bareng Bersama Bupati dan Wakil Bupati Gresik

Selanjutnya perjalanan menuju Kota Tembagapura dengan jarak sekitar 64 kilometer ditempuh melalui jalur darat dengan bus khusus milik PTFI. Perjalanan darat ini menembus hutan dengan waktu kurang lebih 2 jam setengah.

Sembari menunggu bus datang, Corporate Communication Staff wilayah Papua, Karel Lutungan menuturkan bus dengan kapasitas 51 penumpang dan menjadi satu-satunya akomodasi para karyawan PTFI yang mau ke Tembagapura maupun sebaliknya.

 

"Jika biasanya bagian belakang truk itu baknya. Disini kami mengubah bak menjadi gerbong penumpang yang dilengkapi sistem keamanan lengkap seperti anti peluru," ujar Karel.

 

Yang tidak kalah unik, para karyawan PTFI menamai bus berwarna oranye kombinasi putih itu dengan nama bus Kerinduan dan bus Cuti.

AMAN: Interior bus kerinduan yang biasanya ditumpangi karyawan Freeport  saat bekerja.
AMAN: Interior bus kerinduan yang biasanya ditumpangi karyawan Freeport saat bekerja.

Karel mengaku belum mengetahui secara pasti kapan dan alasa para karyawan memberikan nama Cuti dan Kerinduan. Namun, kata dia, para karyawan PTFI meyakini dua nama ini memberikan kesan kecintaan mereka kepada keluarga di rumah maupun Kota Tembagapura tempat mereka bekerja.

 Baca Juga: Penjual Tahu Bulat Rp 500-an Ditemukan Meninggal Dalam Kosan Menganti Gresik

"Yang membedakan bus kerinduan dan bus cuti terletak pada rute yang ditempuh. Jika bus Cuti berangkat dari bandar udara Mosez Kilangin menuju Tembagapura, sedangkan bus kerinduan berangkat dari terminal Gorong-gorong Timika atau area Kota menuju Tembagapura," imbuhnya.

 

Lebih lanjut, pria asal Manado ini menuturkan, untuk bisa naik ke bus Cuti dan  Kerinduan para penumpang wajib melakukan check in di area bandara Mosez Kilangin. Nantinya, para penumpang akan diperiksa maksud dan tujuan menuju ke Kota Tembagapura. Nah, jika penumpang merupakan tamu PTFI setidaknya harus bisa mendapatkan persetujuan dari pimpinan perusahaan agar selanjutnya mendapatkan kartu visitor.

 

"Bus ini bukan untuk umum melainkan hanya untuk karyawan, kontraktor dan tamu PT Freeport Indonesia saja. Jam keberangkatannya pun juga hanya dua kali dalam satu hari," tegasnya.

Kota kecil ini dibangun PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk mendukung aktivitas pertambangan. Banyak masyarakat mengenal Tembagapura dengan sebutan negeri di atas awan.

 

"Suhu udara rata-rata berkisar 13-15 derajat. Namun bisa menyentuh 9 derajat pada pagi hari," tutur Karel.

 

Kota ini letaknya di pegunungan Sudirman, tidak jauh dari Puncak Carstensz, puncak tertinggi di Oceania dan tertinggi kedua di benua Asia. Sekilas, Tembagapura memiliki keindahan alam yang luar biasa. Ada banyak jembatan-jembatan kecil di sudut kota dan kabut putih yang menghiasi langit karena tempat ini jarang disinari matahari.

Di kawasan ini juga terdapat dua gunung yang merupakan kawasan tambang, yaitu Gunung Ertsberg dan Gunung Grasberg. Karel menuturkan, sebagai kota kecil di tengah hutan Papua, Tembagapura dihuni berbagai suku dan daerah dari Indonesia, termasuk warga negara asing (WNA) yang bekerja di PTFI.

 

"Ekspatriat disini jumlahnya 2 persen atau sekitar 600 orang dari 30 ribu pekerja PT Freeport Indonesia dan kontraktor. Kami hidup rukun berdampingan bersama," tuturnya.

 Baca Juga: Lowongan Kerja di KEK JIIPE Mulai Terisi Tenaga Kerja Lokal, Puluhan Orang Gresik Dikirim Pelatihan ke China

Meskipun lokasi Kota Tembagapura ini terletak diatas pegunungan namun fasilitas yang dimiliki kota ini tidak kalah dengan kota di Jawa. Mulai dari rumah sakit, pasar swalayan modern, pusat perbelanjaan, gelanggang olahraga, perpustakaan, kantor pos, kafe, salon, penerangan jalan dan transportasi umum dalam kota. Bahkan aneka menu makanan jawa juga tersedia di kota ini.

 

"Kota Tembagapura adalah miniatur indonesia, sehingga semua makanan ada disini," pungkasnya. (fir/han)

Editor : Hany Akasah
#ptfi #Freeport #gresik #Kerinduan #tengah #bus #cuti #Corporate Communication #radar #timika #papua #Indonesia