RADAR GRESIK – Kondisi dunia pendidikan di wilayah kepulauan Kabupaten Gresik memerlukan perhatian serius. Pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027, UPT SDN 372 Gresik yang terletak di Dusun Clegung Gunung Timur, Desa Pekalongan, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, tercatat hanya mendapatkan dua siswa baru.
Minimnya minat masyarakat dipengaruhi oleh populasi penduduk sekitar yang terbatas, fasilitas yang minim, hingga lokasi sekolah yang berada di kawasan perbukitan terpencil.
Baca Juga: Usung Tema Adab Mulia, MPLS Hari Kedua SDIT Al Ibrah Gresik Berlangsung Edukatif dan Magis
Kepala SDN 372 Bawean, Nurfiyana Aprilianti, mengungkapkan bahwa krisis minimnya jumlah siswa baru ini bukan merupakan persoalan yang baru muncul pada tahun ini saja. Sekolah negeri tetangga, yakni SDN 371, juga mengalami nasib serupa.
"Tahun ini kami hanya mendapatkan dua siswa baru yang mendaftar. Lokasi sekolah kami berada di atas gunung, sementara populasi penduduk di sekitar sekolah memang sedikit. Sekolah SDN 371 juga kondisinya sama minim," ungkap Nurfiyana, Rabu (15/7).
Ia menjelaskan, mayoritas orang tua di wilayah Desa Pekalongan lebih condong menyekolahkan anak-anak mereka ke MI As'Saadah. Selain karena lokasinya yang lebih mudah diakses, sekolah swasta tersebut memiliki daya tarik berupa fasilitas ekstrakurikuler yang lebih variatif.
Baca Juga: Perkuat Konsep Green Port, Terminal Teluk Lamong Gandeng BRIN Petakan Biota Laut
"Banyak yang lebih memilih MI, salah satunya karena ada fasilitas ekstrakurikuler seperti drumband yang menarik minat anak-anak," ujarnya.
Perempuan yang baru mengemban amanah sebagai kepala sekolah pada Januari 2026 ini mengaku cukup terkejut saat pertama kali mendapati realitas jumlah total murid di sekolahnya. Dari kelas 1 hingga kelas 6, SDN 372 Bawean saat ini hanya memiliki total sembilan siswa.
Rinciannya, kelas 1 diisi oleh satu siswa, kelas 2 sebanyak dua siswa, kelas 3 dua siswa, kelas 4 satu siswa, kelas 5 satu siswa, dan kelas 6 dihuni dua siswa. Keterbatasan sarana memaksa pihak sekolah melakukan efisiensi tata ruang.
Baca Juga: Rapat Monev Triwulan II, Komisi III DPRD Gresik Dorong DPUTR Kebut Proyek Jalan dan Waduk
"Sekolah hanya memiliki tiga ruang kelas dan satu ruang kantor. Akhirnya, satu ruangan terpaksa kami sekat untuk digunakan oleh dua jenjang kelas sekaligus," imbuhnya.
Tak berhenti di situ, tantangan berat juga terlihat dari kondisi fisik bangunan sekolah yang memprihatinkan dan rusak berat. "Kondisi bangunan sudah miring. Bahkan, ada area plafon yang harus diganjal dan ditopang menggunakan bambu agar tidak runtuh menimpa siswa. Keramik lantai juga banyak yang pecah dan merekah," bebernya.
Kerusakan struktural tersebut diduga kuat akibat dampak rentetan pergeseran tanah pasca-gempa tektonik yang sempat mengguncang Pulau Bawean beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Kandaskan Prancis 2-0, Spanyol Melaju ke Babak Final Piala Dunia 2026
"Memang sudah sempat ada survei dari tim konsultan, namun sampai hari ini belum ada kepastian regulasi apakah sekolah ini akan direhab dalam waktu dekat," tambahnya.
Dari aspek finansial operasional, SDN 372 Bawean sepenuhnya bergantung pada dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) yang hanya berkisar Rp 11 juta per tahun. Guna memantik semangat belajar anak-anak di tengah keterbatasan anggaran, Nurfiyana bahkan rela merogoh kocek pribadinya untuk membelikan fasilitas awal berupa tas, alat tulis, dan buku penunjang bagi siswa baru.
"Saya ingin anak-anak di sini tetap semangat bersekolah. Karena itu saya berinisiatif memberikan perlengkapan sekolah dari uang pribadi. Kalau mengandalkan uang Bosda, tentu tidak akan cukup," tuturnya.
Baca Juga: Gandeng Fatayat NU di Hijrah Preneur Fest 2026, Kadin Gresik Cetak Kader Perempuan Berdaya
Saat ini, SDN 372 Bawean diampu oleh 6 orang guru dan tenaga kependidikan. Pihak sekolah membuka diri jika pemerintah daerah melirik opsi penggabungan sekolah demi efisiensi proses belajar mengajar.
"Kalau misalnya dilakukan regrouping (merger), saya pribadi tidak masalah. Misalkan lokasinya dipindah agak turun ke bawah, bukan di atas gunung, insya Allah peminatnya akan banyak karena populasi penduduk di bawah lebih besar. Namun, hingga saat ini belum ada pembahasan resmi ke arah sana," pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany AkasahSumber : Radar Gresik