RADAR GRESIK - Hari Kartini bukan sekadar seremonial kebaya dan sanggul, melainkan sebuah pengingat tentang nyala api perjuangan yang tak boleh padam dalam diri setiap perempuan.
Di tengah laju zaman yang menuntut ketangguhan dan inovasi, sosok Kartini modern adalah mereka yang mampu melampaui keterbatasan, mengubah tantangan menjadi peluang, dan menanamkan nilai-nilai luhur dalam setiap peran yang mereka jalani.
Bagi perempuan, Hari Kartini adalah momentum untuk menyadari bahwa setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, baik dalam ranah domestik maupun publik adalah investasi besar bagi kemajuan peradaban.
Pesan mendalamnya terletak pada kemandirian berpikir dan ketulusan dalam memberi, sebuah kekuatan lembut yang menjadi fondasi utama dalam mencetak generasi masa depan yang bermartabat.
Peringatan Hari Kartini tahun 2026 membawa pesan mendalam bagi kita semua, terutama saat bersinggungan dengan Milad ke-25 Klinik Pendidikan Manusia (KPM) pada 16 April lalu. Transformasi KPM dari "MIPA" menjadi "Manusia" bukan sekadar perubahan nomenklatur, melainkan sebuah penegasan visi tentang pendidikan karakter yang utuh. Sebagai pengawal program KPM di "Kota Pudak" Gresik sejak 2016, saya melihat benang merah yang kuat antara perjuangan Kartini dengan dedikasi para ibu dari siswa Sekolah Center (SC) KPM Muhammadiyah Ahmad Dahlan Gresik Pusat.
Tema Hari Kartini tahun ini, "Pemberdayaan Perempuan untuk Menyongsong Indonesia Emas 2045 denganMenekankan pada Ketangguhan, Inovasi Digital, dan Pendidikan.” Bagi para "Kartini KPM", ketangguhan ini tidak lagi diuji lewat pingitan, melainkan melalui konsistensi mendampingi putra-putrinya setiap Sabtu siang. Menjadi ibu dari siswa KPM adalah sebuah seni mengelola kesabaran: memastikan infaq seikhlasnya tertunaikan, memantau 7 amalan sunnah, mendampingi PR Akhlak, hingga memberikan motivasi saat anak menghadapi Tes Eliminasi.
Namun, esensi dari perjuangan ini seringkali terdistorsi oleh pemahaman sempit. Seperti yang ditegaskan oleh Dr. Ridwan Hasan Saputra, M.Si. di Gresik awal tahun ini, sistem "bayaran seikhlasnya" bukanlah berarti gratis atau semaunya. Seikhlasnya adalah bentuk penghargaan. Penghargaan terhadap ilmu, guru, dan para pejuang di balik layar lembaga. Ketika seorang ibu memberikan infaq terbaiknya, ia sedang mengajarkan anaknya bahwa ilmu memiliki marwah yang harus dijunjung tinggi.
Hal ini sejalan dengan konsep "Spiritual Capital" atau Modal Spiritual yang dikemukakan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall dalam buku mereka Spiritual Capital: Wealth We Can Live By (2004). Mereka menyatakan bahwa keberhasilan jangka panjang sebuah komunitas bergantung pada nilai-nilai, visi, dan tujuan terdalam yang dimiliki anggotanya. Di KPM, modal spiritual ini adalah keikhlasan.
Baca Juga: Latih Motorik dan Karakter, Puluhan Siswa TK dan SD di Tlogopojok Gresik Ikuti Pesta Siaga Kreatif
Pak Ridwan menyampaikan, perjalanan di KPM sering disebut sebagai "perjalanan ghaib" sebuah investasi yang hasilnya mungkin tidak terlihat seketika dalam angka-angka matematis, namun tersimpan rapat dalam "tabungan jiwa" yang akan dicairkan Allah Swt. dalam bentuk kesuksesan anak-anak kita di masa depan.
Ketangguhan para ibu siswa KPM ini juga tercermin dalam kemampuan mereka menghindari jebakan pujian. Pesan Presiden Direktur KPM Pusat pada pertemuan virtual baru-baru ini sangat membekas: hindari pujian, karena jika huruf "p" hilang, yang tersisa hanyalah "ujian". Pujian manusia bersifat menjatuhkan, sedangkan pengabdian sejati hanya untuk Sang Pencipta. Para ibu yang ikhlas mengantar jemput, berupaya membelikan seragam batik, hingga mendoakan putra-putrinya menjadi Medalis, sesungguhnya sedang melakukan kerja-kerja peradaban yang sunyi namun fundamental.
Dalam konteks pendidikan modern, peran ibu sebagai pendamping utama sangat krusial. Ki Hadjar Dewantara dalam karyanya Bagian Pertama: Pendidikan (1962) menyebut keluarga sebagai "Pusat Pendidikan yang Pertama".
Para Kartini di SC KPM Gresik telah mengambil peran ini dengan luar biasa. Mereka tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga mengawal inovasi karakter melalui PR Akhlak.
Harapan saya, para orang tua dapat menerima KPM secara utuh. Jangan melihat KPM hanya sebagai tempat les Matematika dan IPA, tetapi sebagai laboratorium pembentukan manusia. Yakinlah bahwa setiap tetes keringat saat mengantar anak dan setiap doa yang dipanjatkan adalah kontribusi nyata bagi Indonesia Emas 2045.
Baca Juga: Targetkan Kembali Juara Umum, Bupati Gresik Resmi Buka MTQ XXXII di Islamic Center Balongpanggang
Melalui slogan Ikhlas, Tegas, Puas, kita bersama-sama mengantarkan generasi yang tidak hanya cerdas secara digital dan akademik, tetapi juga tangguh secara spiritual. Inilah kado terindah untuk Milad ke-25 KPM: sebuah komitmen bahwa perjuangan Kartini terus hidup dalam setiap langkah ibu-ibu tangguh di Kota Gresik.
Mari kita jadikan setiap langkah dan doa para Kartini masa kini sebagai wujud nyata "tabungan jiwa" yang tulus, demi mengantarkan putra-putri kita menjadi manusia yang tidak hanya unggul secara akal, namun juga merdeka secara karakter dan spiritual bersama KPM.
Editor : Hany Akasah