Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Penelitian Mahasiswa S3 Unesa Surabaya, Menulis Puisi Bisa Jadi Terapi Orang dengan Gangguan Jiwa di RSJ

Hany Akasah • Selasa, 1 Oktober 2024 | 04:19 WIB
Yunita Suryani menemani orang dengan gangguan jiwa menulis puisi
Yunita Suryani menemani orang dengan gangguan jiwa menulis puisi

RADAR GRESIK - Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yunita Suryani, mahasiswa S3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersama Prof. Bambang Yulianto, M.Pd. dan Dr. Suhartono, M.Pd baru-baru ini mengungkapkan bahwa menulis puisi dapat menjadi salah satu terapi efektif bagi seseorang yang mengalami gangguan jiwa.

"Penelitian yang didanai oleh Kemdikbudristek pada skema penelitian kompetitif nasional disertasi doktor, mengusung topik terapi puisi bagi pasien skizofrenia," kata Yunuta Suryani, peneliti sekaligus mahasisw S3 Unesa Surabaya.

Studi ini mengukuhkan pendekatan kreatif yang telah banyak dilakukan di berbagai negara maju, seperti Jepang dengan terapi Japa (mantra berulang) dan Renku (puisi kolaboratif), dan menyarankan bahwa menulis puisi bisa menjadi metode yang signifikan dalam pengelolaan kesehatan mental di Indonesia.

Yunita merupakan mahasiswa yang sedang menempuh gelar dorktoral Unesa ini berfokus pada bagaimana menulis puisi dapat memberikan manfaat psikologis bagi individu yang mengalami gangguan jiwa. Sebagai bagian dari terapi ekspresif, puisi memungkinkan pasien untuk mengekspresikan emosi yang sulit disampaikan secara verbal.

Puisi sebagai media terapi melibatkan penggunaan kata-kata untuk menggambarkan perasaan yang mungkin sulit diungkapkan melalui komunikasi sehari-hari. Dengan menulis, pasien dapat mengungkapkan kekhawatiran, ketakutan, atau pengalaman traumatis yang membebani pikiran mereka.

Peneliti yang juga merupakan dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Ronggolawe Tuban ini melakukan penelitian didampingi oleh dr. Esther Haryanto, Sp.KJ, seorang psikiater di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya, yang berperan penting dalam supervisi klinis dan intervensi langsung pada pasien.

Penelitian terbarukan itu juga didukung Kabid Bidangdiklatlitbang Abdul Habib, S.Kep.,Ns yang terus melakukan pendampingan.

Peneliti melakukan intervensi terhadap beberapa pasien laki-laki dan perempuan dengan gangguan jiwa melalui kegiatan menulis puisi. Tujuannya adalah untuk melihat dampak terapeutik dari proses kreatif ini dalam pemulihan kondisi mental para pasien.

Intervensi ini melibatkan serangkaian sesi menulis puisi yang diadakan secara berkala, di mana pasien diminta untuk menulis puisi tentang perasaan mereka, pengalaman hidup, atau pikiran yang mengganggu mereka. Setiap sesi dipantau oleh dr. Esther dan tim peneliti untuk memastikan bahwa proses tersebut berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi pasien.

Dalam penelitian ini, para pasien di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya terlibat dalam sesi menulis puisi secara rutin. Mereka didorong untuk mengekspresikan perasaan, pengalaman, dan pikiran mereka melalui bentuk puisi bebas.

Hasilnya menunjukkan bahwa pasien yang aktif menulis puisi mengalami penurunan tingkat kecemasan dan stres. Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa menulis puisi membantu pasien mengidentifikasi dan mengelola trauma atau pengalaman negatif secara lebih sehat.

“Melalui aktivitas menulis, mereka bisa menuliskan pikiran-pikiran terdalam mereka tanpa merasa tertekan,” ujar dr Esther.

Pendekatan yang memanfaatkan puisi ini telah diterapkan di negara-negara lain dengan hasil yang serupa. Jepang, misalnya, telah menggunakan terapi Japa yang melibatkan pengulangan mantra sebagai cara untuk menenangkan pikiran dan mengurangi kecemasan.

Terapi Renku, puisi kolaboratif tradisional Jepang, juga banyak digunakan dalam komunitas untuk mendorong ekspresi diri dan meningkatkan interaksi sosial antar individu.

Melalui perbandingan ini, penelitian yang dilakukan oleh Yunita Suryani memberikan sebuah temuan bahwa puisi yang merupakan seni sastra dapat digunakan sebagai alat terapi yang efektif dan dapat diterapkan dalam konteks budaya Indonesia.

“Menulis puisi naratif secara ekspresif bisa dimanfaatkan sebagai terapi mental untuk perkembangan ilmu khususnya kesehatan di Indonesia. Akhir-akhir ini banyak pemberitaan meningkatnya kasus gangguan jiwa akibat stress sosial, dan tantangan kehidupan modern. Maka, diperlukan pendekatan yang lebih humanis dan personal untuk membantu para pasien gangguan jiwa menemukan keseimbangan mental mereka kembali.” Ujar Yunita.

Penelitian ini juga bertujuan untuk menghilangkan stigma yang selama ini melekat pada gangguan jiwa. Banyak masyarakat masih menganggap bahwa terapi kesehatan mental hanya melibatkan obat-obatan dan metode medis.

Padahal, dengan teratur mengkonsumsi obat-obatan dan metode medis, juga disertai dengan kegiatan yang positif kreatif seperti menulis puisi mampu memberikan hasil yang lebih baik terhadap kondisi kesehatan pasien.

Puisi memungkinkan pasien untuk melihat masalah mereka dari sudut pandang baru, yang sering kali memunculkan kesadaran dan solusi emosional yang lebih mendalam.

Dr. Esther menambahkan bahwa meskipun terapi menulis puisi bukanlah pengganti pengobatan medis konvensional, namun ini bisa menjadi pendukung yang efektif dalam proses pemulihan.

“Dengan memberi pasien alat untuk mengekspresikan diri secara kreatif, kita tidak hanya membantu mereka mengelola emosi, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri dan kontrol terhadap diri mereka sendiri,” jelasnya.

Dalam intervensi ini, pasien laki-laki dan perempuan di RSJ Menur Surabaya menunjukkan respons yang bervariasi. Pasien laki-laki umumnya menulis puisi yang lebih pendek dan langsung, sering kali menggunakan metafora untuk menggambarkan perasaan mereka, seperti “sakit” untuk menggambarkan kesedihan atau penderitaan untuk mencerminkan hati yang terluka, kemarahan. Sementara itu, pasien perempuan cenderung menulis dengan narasi yang lebih panjang dan ekspresif, menggambarkan perasaan takut, harapan, dan perjuangan mereka dalam menghadapi gangguan mental. 

Beberapa pasien melaporkan bahwa menulis puisi memberikan perasaan lega karena dapat melepaskan beban emosional yang dipikirkan selama ini. Salah satu peserta terapi, seorang pasien dengan medify hebephrenic schizophrenia, mengungkapkan, “saya senang menulis, saya merasa lega, plong.” Meskipun demikian, memberikan intervensi dengan meminta pasien menulis puisi bukan tanpa tantangan. Tidak semua pasien memiliki latar belakang dalam menulis dengan baik, sehingga diperlukan bimbingan khusus untuk membantu mereka merasa nyaman dalam menggunakan bahasa sebagai alat ekspresi. Selain itu, ada juga pasien yang mungkin tidak merespons dengan baik terhadap metode ini. Oleh karena itu, terapi puisi harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan individu.

Penelitian ini tidak hanya memiliki dampak positif bagi pasien, tetapi juga memberikan wawasan penting bagi masyarakat luas tentang pentingnya ekspresi kreatif dalam kesehatan mental.

Menurut penelitian, proses kreatif seperti menulis puisi memungkinkan individu untuk merumuskan ulang pengalaman hidup mereka, mengolah emosi, dan meraih rasa kontrol yang lebih besar atas pikiran mereka.

Dengan demikian, masyarakat diharapkan untuk lebih terbuka terhadap pendekatan-pendekatan baru dalam menangani masalah kesehatan mental.

Penggunaan puisi sebagai terapi tidak hanya bermanfaat bagi pasien di rumah sakit jiwa, tetapi juga dapat diimplementasikan secara luas di masyarakat sebagai alat untuk menjaga keseimbangan emosional dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui penelitian ini,  perlu mulai melihat puisi bukan hanya sebagai bentuk seni sastra, tetapi sebagai alat terapeutik yang dapat membantu orang mengatasi stres, kecemasan, dan depresi.

Menulis puisi adalah cara yang mudah diakses, personal, dan sangat manusiawi untuk menyembuhkan jiwa. Dari sisi klinis, pola-pola bahasa dalam puisi dapat mengungkapkan banyak hal tentang kondisi mental pasien. Misalnya, metafora tentang "sakit", "suara", atau "halusinasi" sering kali muncul pada pasien dengan depresi, kecemasan, atau gangguan mental lainnya.

Penelitian ini diharapkan menjadi sebuah langkah maju bagi perkembangan terapi berbasis bahasa di Indonesia, dan diharapkan dapat menjadi landasan untuk pengembangan metode-metode serupa di masa depan.

Dengan meningkatnya pemahaman akan pentingnya kesehatan mental, penelitian ini juga menekankan perlunya integrasi seni sastra dalam pendekatan terapi yang lebih holistik dan inklusif di seluruh sektor kesehatan mental.

Menulis puisi dapat menjadi alat pemulihan gangguan jiwa, dan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seni, dalam segala bentuknya, bisa menjadi bagian penting dari perjalanan penyembuhan jiwa yang lebih mendalam. (han)

Editor : Hany Akasah
#terapi #Yunita #surabaya #Gangguan Jiwa #rumah sakit jiwa #puisi #menulis #Menur #penelitian #Unesa