Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Opini Juara 1 Lomba Essai: Pemuda Gresik dalam Membangun Indonesia Emas: Subjek Pembangunan Daerah dan Urban Kalcer

Riri Masfardian • Kamis, 19 September 2024 | 14:44 WIB

 

Ahmad Ali Murtadho dan  Irfan Akbar P, Dewan kebudayaan Gresik (DKG)
Ahmad Ali Murtadho dan Irfan Akbar P, Dewan kebudayaan Gresik (DKG)

RADAR GRESIK-Indonesia sedang menghadapi masa depan yang penuh tantangan sekaligus peluang besar menuju Indonesia Emas 2045, di mana bangsa ini ditargetkan menjadi negara maju dengan perekonomian yang kuat, pemerintahan yang baik, dan masyarakat yang sejahtera. Hal ini  didasarkan pada adanya bonus demografi yang akan memuncak pada tahun 2030.

Sehingga, dunia kerja maupun kreatif akan dipersaingkan oleh para pemuda. Anis Ananta menyebutkan nantinya pengaruh gelar akademis dalam pasar kerja akan semakin berkurang.

Persaingan dunia kerja akan lebih menekankan pada prestasi para pekerja maupun calon pekerja yang bisa dilihat dari rekam jejak digitalnya. (Ananta, A. 2021).

Beberapa catatan tersebut tampaknya perlu serius untuk diperhatikan dan dijadikan landasan bagi pemangku kepentingan untuk merumuskan strategi menggaet ataupun melibatkan anak muda dalam pembangunan daerah.

Tentu saja upaya untuk pendekatan terhadap generasi muda tidak sekadar sebagai partisipan dalam sarasehan atau sosialisasi program, namun menjadi subjek utama dalam perumusan program kerja dalam menyongsong pembangunan.

Memahami Pemuda sebagai Subjek atau Objek

Dalam berbagai acara kepemudaan, Indonesia Emas 2045 selalu digaung-gaungkan sebagai sebuah gagasan. Bonus demografi menjadi harapan pemerintah dan mereka yang percaya,  Republik Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi terbesar kelima di dunia dengan nilai PDB mencapai US$7,3 triliun dan pendapatan per kapita mencapai US$25.000. Hal itu tertuang pada visi Indonesia 2045 yang disusun oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2019. Dalam kajian pilar-pilar Indonesia Emas yang dirumuskan oleh Bappenas, terlibat  sebagian besar dari pilar tersebut juga membutuhkan keterlibatan penuh para pemuda.

Salah satu terobosan desain alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan membuat kelas warga atau sekolah warga. Sebuah ruang yang mempertemukan para pelaku kebudayaan lokal baik dalam ekonomi, edukasi tradisional, sosial, maupun historis untuk diwariskan kepada para pemuda.

Pemuda, Urban, dan Etalase Ruang Pamer

Ada banyak tantangan bagi pemuda Gresik yang hidup dan bertumbuh di lingkungan urban, seperti urbanisasi yang pesat, biaya hidup yang tinggi— jika tidak mau disebut kemiskinan— dan kesenjangan sosial. Hal ini membutuhkan solusi yang kreatif dan adaptif. Kompetisi yang ketat, ketidakstabilan ekonomi, dan besarnya biaya untuk hidup juga menjadi tekanan yang harus dihadapi pemuda perkotaan.

Start-up berbasis teknologi dan bisnis kreatif yang dikelola oleh pemuda tidak hanya membantu mengurangi pengangguran, tetapi juga mendorong terciptanya ekosistem bisnis yang dinamis di perkotaan.

Pemuda yang berani berwirausaha di lingkungan urban harus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi digital, seperti e-commerce, fintech, hingga artificia lintelligence (AI) untuk memperkuat daya saing bisnis mereka.

Selain itu, mereka juga perlu memiliki mindset kewirausahaan yang adaptif terhadap perubahan dan berani mengambil risiko. Berkaca pada Gresik, sektor startup di Gresik juga bertumbuh dengan pesat seiring dengan pesatnya urban kalcer. Namun, tidak jarang juga beberapa sektor industri yang diinisiasi pemuda lokal masih sangat susah bersaing dengan brand-brand luar yang membanjiri kota. Apalagi, daerah Gresik yang berbatasan langsung dengan Surabaya membuat beberapa sektor masih kalah kelas dan pamor untuk diminati.

Tidak selesai sampai disitu, banyak juga anak-anak muda Gresik yang kreatif dan inovatif lebih memilih menempatkan dan mengembangkan usahanya di luar kota seperti Surabaya dan Malang.

Sektor lain yang belum terjamah potensinya adalah sektor layanan ruang publik. Keberadaan Gresik sebagai kota urban yang dikuatkan dengan adanya wilayah-wilayah historis semestinya menjadi potensi besar untuk bertumbuhnya kebudayaan-kebudayaan urban. Seperti musik, tari,performingart maupun ekspresi seni lainnya. Kesadaran ini perlu dipahami sebagai ekosistem kreatif yang akan menunjang pertumbuhan ekonomi.

Penutup

Pemuda Indonesia memiliki peran yang sangat strategis dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Di era 5.0, di mana teknologi menjadi bagian integral dari kehidupan, pemuda dituntut untuk tidak hanya beradaptasi, tetapi juga menjadi inovator yang mampu membawa perubahan positif di berbagai bidang.

Pemuda adalah aset terbesar bangsa Indonesia dalam menghadapi masa depan yang penuh tantangan dengan berbagai gagasan dan prinsip yang dipegangnya. Menyitir apa yang pernah diungkapkan Tan Malaka, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”

Dengan peran mereka sebagai agen perubahan di daerah, mitra pemerintah, dan wirausahawan di lingkungan urban, pemuda memiliki potensi besar untuk membawa Indonesia menuju kemajuan yang berkelanjutan.

Dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045, keterlibatan aktif pemuda dalam semua aspek pembangunan, baik di tingkat daerah maupun nasional, adalah sebuah keniscayaan. Mereka harus diberi ruang dan kesempatan untuk berkontribusi secara maksimal, karena masa depan bangsa ini ada di tangan mereka. Dengan semangat kewirausahaan, keterampilan yang mumpuni, dan kepedulian terhadap pembangunan daerah, pemuda dapat berperan sebagai pilar utama dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif. (rir/han)

 

Editor : Hany Akasah
#Emas #gresik #Muda #Pemuda #generasi #Indonesia