RADAR GRESIK - Di Gresik, pendidikan berbasis inklusi untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) makin berkembang. Namun, siapa sangka sebelum digembar-gemborkan pendidikan inklusi di Gresik, Unit Pelaksana Teknis (UPT) SDN 13 Gresik yang dahulu bernama SDN 1 Tlogopatut sudah memutuskan menjadi sekolah inklusi pertama di Kabupaten Gresik sejak tahun 2008.
Bisa dikatakan pioneer, hal itu karena sekolah negeri yang telah terakreditasi A ini telah berdiri sejak tahun 1976 dan beralamat di Jalan dr Soetomo Gresik itu memulai pendidikan inklusi sejak tahun 2008. Dimana, saat itu masih jarang sekolah yang memiliki pendidikan inklusi untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Sekolah ini telah menyediakan berbagai program dan layanan yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan ABK, seperti kelas inklusif dan menyediakan guru pendidik khusus (GPK) sejak tahun 2008.
“Awalnya saat di tahun 2008, ada beberapa wali murid yang mengusulkan dan memasukkan anak anaknya yang memiliki kebutuhan khusus untuk bersekolah disini.” kata Sugihermanto, salah satu GPK di UPT SDN 13 Gresik.
Dari situlah, cikal bakal pendidikan inklusi di UPT SDN 13 Gresik berdiri. Dari situ, akhirnya banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya yang memiliki keistimewaan. Namun, pada awal-awalnya orang tua membawa GPK sendiri. Dari proses evaluasi, akhirnya GPK disediakan sekolah. Dengan harapan, kelas lebih kondusif dan kurikulum yang diajarkan sama.
“Akhirnya pada tahun 2008, Pemkab Gresik menyetujui dan memberikan SK kepada UPT SDN 1 Tlogopatut (SDN 13 Gresik) untuk menjadi sekolah Inklusi pertama di Gresik.,” kata Sugihermanto.
Dalam proses pembelajarannya, ABK yang berada di kelas inklusi bisa berpindah ke kelas reguler jika sudah mandiri dan dinyatakan bisa dilepas.
“Ada Assessment, kalau sudah dinyatakan pindah reguler. Maka nanti bisa bergabung dengan kelas reguler. Pastinya, tidak ada perbedaan khusus, hanya di kelas inklusi ini ada GPK nya,” katanya.
Kepala UPT SDN 13 Gresik Sri Endriana menuturkan, para murid baik reguler maupun ABK di UPT SDN 13 Gresik diberikan kesempatan untuk mengembangkan minat dan bakatnya melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler dan program pengembangan bakat," kata Sri.
Misalnya, dengan dibentuknya grup angklung yang anggotanya bukanlah anak-anak biasa, melainkan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).
"Bagi anak-anak ABK di grup angklung SDN 13 Gresik, bermain angklung bukan hanya tentang menghasilkan melodi yang indah. Lebih dari itu, bermain angklung menjadi sarana terapi, melatih motorik halus dan kasar, meningkatkan konsentrasi, dan membangun rasa percaya diri,” kata Sri Endriana.
Baca Juga: Pemkab Gresik Siapkan Prasarana untuk Ratusan Pendidikan Inklusi
Pengawas dan Pembina TK SD Kecamatan Kebomas Nanang Sedyo Suwito menambahkan, UPT SDN 13 Gresik menjadi contoh nyata pendidikan inklusi memberikan manfaat bagi ABK.
"Saya mengapresiasi guru di UPT SDN 13 Gresik yang telah mendampingi para murid, sekolah ini bisa menjadi contoh pendidikan inklusi di sekolah lainnya,” katanya. (nov/han)
Editor : Hany Akasah