RADAR GRESIK – Kebiasaan membuang minyak jelantah ke saluran pembuangan, yang selama ini menjadi sumber pencemaran lingkungan, kini berubah menjadi peluang pendapatan bagi warga Kampung SIBA, Kelurahan Sidokumpul, Gresik.
Di kampung ini, minyak jelantah berhasil dimanfaatkan menjadi penghasilan sekaligus upaya menjaga lingkungan.
Hampir setiap hari, minyak jelantah dikumpulkan dan diproses menggunakan mesin bernama box ucollect. Mesin ini, yang mendukung transisi energi terbarukan, dapat diakses warga melalui aplikasi di Playstore.
Salah satu warga Kampung SIBA, Yetty Nur Hidayati, menyampaikan bahwa sudah tiga bulan terakhir aktif mengumpulkan minyak jelantah dari rumah tangga di lingkungannya.
Setiap liter minyak jelantah yang terjual dihargai Rp6 ribu dan hasilnya langsung masuk melalui aplikasi.
“Lumayan untuk tambahan belanja,” ungkapnya ketika ditemui usai menjual minyak jelantah di Balai RT Kelurahan Sidokumpul.
Yetty mengakui, sebelumnya ia selalu membuang minyak bekas. “Sebelum ada alat ini, minyak bekas biasanya saya buang. Sekarang disimpan di jerigen dan dikumpulkan, lalu dijual. Bulan lalu saya dapat Rp50 ribu, bulan ini Rp33 ribu,” imbuhnya.
Program pengumpulan minyak jelantah ini difasilitasi melalui Ucollect Box, sebuah alat penampung minyak bekas, dengan tujuan memfasilitasi masyarakat dalam mendaur ulang Used Cooking Oil (UCO) agar tidak mencemari lingkungan.
Lurah Sidokumpul, Mukhlisun, menjelaskan bahwa Kampung Siba menjadi satu-satunya wilayah di Gresik yang sudah memiliki Ucollect Box.
Ia menyebut, program ini sejalan dengan konsep Kampung Zero Waste yang selama ini diterapkan di wilayahnya.
“Seluruh sampah di sini diolah. Ada yang dijadikan kompos, dan sekarang minyak jelantah pun dimanfaatkan. Tidak ada lagi sampah rumah tangga yang dibuang ke TPA,” terangnya.
Vika Sita Rini, Manager Regional dari Ucollect by Noovoleum, mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari kegiatan CSR salah satu perusahaan. Kampung Siba menjadi salah satu dari 15 titik binaan di Jawa Timur, dan satu-satunya di Gresik.
“Antusiasme warga luar biasa. Setiap kali box penuh, bisa terkumpul hingga satu ton jelantah atau 1.000 Liter. Minyak ini nantinya diolah menjadi energi terbarukan seperti biodiesel dan bioavtur,” jelasnya.
Melalui alat itu, Vika menerangkan masyarakat tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi pencemaran lingkungan dan bahaya penggunaan minyak goreng berulang, tapi juga turut mendukung transisi energi baru terbarukan.
“Kami berharap masyarakat bisa merasakan nilai dari limbah ini. Kalau dibuang bisa mencemari lingkungan, tapi kalau dikumpulkan justru jadi energi bermanfaat,” pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany Akasah