Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Petani Gresik Gagal Tanam Akibat Cuaca Buruk, Biaya Produksi Membengkak Dua Kali Lipat

Yudhi Dwi Anggoro • Jumat, 28 November 2025 | 15:33 WIB
CUACA BURUK : Petani di Desa Gredek, Kecamatan Duduksampeyan, Gresik gagal tanam dan merugi akibat cuaca buruk.
CUACA BURUK : Petani di Desa Gredek, Kecamatan Duduksampeyan, Gresik gagal tanam dan merugi akibat cuaca buruk.

RADAR GRESIK - Nasib malang menimpa para petani padi di Desa Gredek, Kecamatan Duduksampeyan, Gresik.

Harapan untuk memulai musim tanam dengan hasil yang baik musnah setelah lahan persawahan mereka diterpa hujan berintensitas tinggi sejak Oktober hingga November 2025.

Cuaca ekstrem tersebut menyebabkan lahan persawahan terendam air, yang berujung pada kerusakan benih padi yang telah ditanam. Akibatnya, petani harus melakukan penanaman ulang dengan biaya produksi yang membengkak signifikan.

Salah satu petani, Suharti (65), warga Desa Gredek, mengungkapkan kerugian yang ia alami.

"Kami sangat mengalami kerugian, karena biasanya belum ada air, petani cukup membutuhkan dua orang buruh tanam. Tetapi sekarang membutuhkan orang banyak, karena lahan terendam air," kata Suharti.

Suharti menjelaskan bahwa cuaca buruk ini telah terjadi hampir setiap hari sejak bulan Oktober 2025. Lahan sawah seluas satu hektare miliknya kini terendam total, dan benih gabah padi sebanyak dua karung yang telah ditanam menjadi rusak.

"Sudah berkorban gabah padi dua sak. Belum dihitung ongkos tenaga tanam. Sekarang juga belum bisa membuat benih lagi karena masih sering hujan," jelasnya.

Para petani kini berupaya keras untuk segera membuat benih padi baru agar siap ditanam dalam rentang waktu 22 hari ke depan.

Kondisi serupa dialami oleh petani lainnya, Iwanto (52), yang juga warga Desa Gredek. Ia menuturkan bahwa cuaca buruk membuat ongkos biaya tanam naik berkali-kali lipat.

"Biasanya bisa tanam sendiri, sekarang sudah tidak bisa," ungkap Iwanto.

Iwanto, yang biasanya mampu menanam biji padi di lahan satu hektare seorang diri, kini harus mengeluarkan biaya hingga Rp 5 juta hanya untuk tenaga buruh tanam benih padi.

"Naik dua sampai tiga kali lipat. Semoga saat panen nanti masih menyisakan untung," pungkasnya, berharap agar kerugian di awal tanam ini masih menyisakan sedikit hasil saat panen raya nanti. (yud/han)

Editor : Hany Akasah
#gresik #duduksampeyan #Gredek #Tanam #sawah #Petani