RADAR GRESIK – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam mengonsumsi daging kurban. Langkah preventif ini penting guna mencegah risiko serangan stroke dan gangguan kesehatan akut lainnya.
Imbauan tersebut disampaikan oleh dr. Heri Munajib, SpN, dokter spesialis neurologi yang berpraktik di RSUD Ibnu Sina Gresik dan RS Semen Gresik, sekaligus pengurus Lembaga Kesehatan PBNU dan PP Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama.
Baca Juga: Menolak Lupa Sejarah, GP Ansor Gresik Gali Pengalaman Ketua dari Masa ke Masa
Menurut dr. Heri, momen Idul Adha yang identik dengan makan bersama rawan memicu lonjakan kasus stroke jika konsumsi daging tidak dikontrol. Terutama bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, atau riwayat kolesterol tinggi.
“Lemak jenuh, kadar garam tinggi pada olahan daging seperti gulai dan rendang, serta konsumsi jeroan dapat memicu penyumbatan pembuluh darah, meningkatkan kolesterol, dan menaikkan tekanan darah secara cepat,” ujar dr. Heri, Jumat (15/5).
Penderita komorbid tetap diperbolehkan mengonsumsi daging kurban, asalkan porsinya dibatasi dan diolah secara benar.
Baca Juga: Atrium Gressmall Full! Antusiasme Membludak di Meet and Greet Film Sekawan Limo 2: Gunung Klawih
Bagi penderita hipertensi, kolesterol, maupun stroke, disarankan membatasi konsumsi daging merah antara satu hingga tiga kali makan per pekan, dengan porsi sekitar 56 hingga 85 gram sekali makan atau setara setengah telapak tangan.
Sementara itu, bagi masyarakat yang berada dalam kondisi sehat, batas aman konsumsi daging merah berkisar antara 50 hingga 100 gram per hari.
Selain porsi, pemilihan bagian daging juga krusial. Masyarakat disarankan memilih bagian yang rendah lemak seperti sirloin, paha belakang (round), atau bagian pinggang (loin), serta wajib membatasi konsumsi jeroan seperti hati dan usus.
Baca Juga: Transformasi Posyandu Slempit, Dinkes Gresik Hadirkan Enam Standar Pelayanan Minimal
Dalam proses memasak, dr. Heri mengingatkan untuk mengurangi penggunaan santan dan garam yang berlebihan. Metode memasak dengan cara direbus, dipanggang, atau dikukus dinilai jauh lebih aman bagi kesehatan tubuh.
“Kementerian Kesehatan menyarankan konsumsi natrium tidak lebih dari 2.000 miligram atau sekitar lima gram garam per hari agar tekanan darah tetap stabil,” jelasnya.
Untuk mengimbangi hidangan daging, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi sayur dan buah penurun kolesterol. Mengonsumsi protein rendah lemak seperti tempe, tahu, putih telur, dan yogurt juga sangat baik sebagai alternatif.
Baca Juga: Ini Dia Rekomendasi TV Sharp 24 Inch Beserta Review dan Keunggulannya
Selain itu, asupan makanan kaya omega-3 seperti ikan salmon, makarel, dan sarden dapat membantu mengurangi peradangan dalam tubuh.
Tak kalah penting, masyarakat juga diingatkan untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan cukup minum air putih serta rutin beraktivitas fisik ringan minimal 30 menit sehari.
Masyarakat diminta langsung waspada apabila muncul keluhan kesehatan mendadak pasca-konsumsi daging berlebih. Untuk deteksi dini, dr. Heri mengenalkan metode BEFAST:
- Balance: Terjadinya kehilangan keseimbangan atau pusing mendadak.
- Eyes: Pandangan kabur atau ganda secara tiba-tiba..
- Face: Wajah tampak tidak simetris atau kesemutan pada separuh wajah.
- Arms: Lengan atau kaki lemas dan mengalami mati rasa pada satu sisi tubuh.
- Speech: Bicara menjadi pelo, cadel, atau mengalami kesulitan berbicara.
- Time: Waktu sangat berharga, sehingga jika gejala-gejala tersebut muncul harus segera mencari pertolongan medis.
Baca Juga: PT Aji Bakuh Anugrah, UMKM Binaan Polres Gresik yang Sukses Ekspor Sekam Padi ke Pasar Global
"Waktu adalah otak. Jika menemukan gejala stroke, segera bawa pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan cepat dan tepat, sehingga dapat mengurangi risiko kecacatan maupun kematian," pungkasnya. (yud/han)
Editor : Hany Akasah