Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Kisah Perjuangan Ibu Dua Anak di Gresik Divonis Gagal Ginjal, Mengaku Terbantu Program JKN, Cuci Darah Tanpa Beban Selamanya

Hany Akasah • Senin, 13 November 2023 | 21:17 WIB

 

TETAP SEMANGAT: Indri Suryaningtiyah, 33 tahun menjalani terapi hemodialisis ditemani para perawat di RSUD Ibnu Sina dengan program JKN
TETAP SEMANGAT: Indri Suryaningtiyah, 33 tahun menjalani terapi hemodialisis ditemani para perawat di RSUD Ibnu Sina dengan program JKN

  

RADAR GRESIK-Berapapun usianya. Secantik dan sehebat apapun, penyakit datang tanpa pandang bulu.

Kondisi inilah yang dialami Indri Suryaningtiyah. Di usianya yang masih 33 tahun, ibu rumah tangga yang tinggal di Desa Randuagung Kecamatan Kebomas itu harus menderita gagal ginjal. Ironisnya, penyakit gagal ginjal itu sudah dialaminya sejak 2017 lalu.

"Dulu saya kerja sebagai SPG salah satu brand produk kecantikan. Kerja capek jadi sering minum-minuman berstamina. Hampir tiap hari minum-minuman berstamina," kata Indri kepada Radar Gresik.

Karena sering minum-minuman berstamina berbagai merek itulah, Indri akhirnya mengalami gagal ginjal yang mengharuskan menjalani hemodialisis sepanjang hidupnya. Indri menceritakan kisah pilu dan perjuangannya selama bertahun-tahun cuci darah.

Saat mengunjungi ruang hemodialisa RS Ibnu Sina Gresik, Jumat (10/11), tampak ruangan dengan ranjang yang disusun rapi. Setiap ranjang terdapat mesin dialisis yang dipakai menyaring darah pasien.

"Saya cuci darah seminggu dua kali, sampai capek. Tapi harus saya jalani, soalnya pengen hidup lama menjaga anak-anak sampai tua," kata Indri dengan air berkaca-kaca.

Sejak divonis harus cuci darah. Indri kehilangan berat badan yang cukup signifikan. Ia sering ngilu dan kram di kakinya. Waktu itu, putri pertamanya masih usia 5 tahun. Sedangkan, putri keduanya masih setahun.

"Waktu itu, saya pasrah. Kondisi kritis seperti ini, tekanan darah sempat 180 per 100. Tapi lihat anak-anak masih kecil, saya harus berjuang untuk tetap hidup," kata Indri.

Indri membayangkan dunia seperti mau runtuh, saat dokter menyatakan dua kali seminggu harus cuci darah. "Biaya yang harus dikeluarkan pasti banyak, apalagi pas saya drop. Mikir keuangan keluarga, anak-anak, suami. Stres sekali saya," ungkap Indri yang akhirnya meneteskan air mata.

 Baca Juga: Jaga Kelestarian Lingkungan, Wilmar Nabati Indonesia Gresik Tanam 500 Mangrove Di Pesisir Desa Karangkiring Kebomas

Indri sudah membayangkan sekali cuci darah biaya yang dikeluarkan Rp 800 ribu. Jika dua kali seminggu, lanjut Indri, maka harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 1,6 juta. Jika sebulan maka biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp 4,8 juta.

"Duit darimana itu, kalau tidak ada BPJS Kesehatan mungkin saya tidak bisa  melihat anak-anak sekarang," kata Indri. 

Namun, Indri mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga. Saat petugas dan perawat menyatakan jika semua biaya cuci darah dicover BPJS Kesehatan atau Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Kebetulan Indri menjadi peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional melalui pendaftaran dari perusahaan suaminya.

Dengan kondisi fisiknya yang sehat hingga sekarang, Indri mengaku masih bisa bermain dengan anak-anaknya.

“Alhamdulillah, saya setiap pagi nganter anak sekolah. Jemput sekolah. Les semuanya saya jalankan sendiri. Saya ingin melihat anak-anak menikah, ingin ngemong cucu. Semoga bisa sehat terus ya,” harap Indri.

 

Dirinya berharap pelayanan JKN terus ada. Karena sangat membantu pembiayaan kesehatan masyarakat.

"Saya juga merasakan perubahan pelayanan sejak BPJS Kesehatan memberikan standar pelayanan kesehatan di seluruh faskes. Semua tertata dengan baik, teratur dan fasilitasnya juga sesuai standar," pungkas Indri. (*/han)

Editor : Hany Akasah
#cuci #Gratis #biaya #gresik #darah #gagal ginjal #spg #Randuagung #RS #JKN #hemodialisis #ibnu sina