RADAR GRESIK – Berdiri tegak di jantung Kota Gresik, Rumah Gajah Mungkur bukan sekadar hunian, melainkan sebuah monumen hidup yang telah melewati lebih dari satu abad.
Bangunan bersejarah yang kini berusia 124 tahun ini menjadi saksi bisu perjalanan kejayaan Gresik sebagai salah satu pusat perdagangan penting di Jawa pada masa kolonial.
Terletak di Jalan Nyai Ageng Arem-Arem Nomor 38, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, rumah ini dibangun oleh saudagar sukses Hadji Djaelan bin Oemar mulai tahun 1896. Proses pembangunannya memakan waktu lima tahun hingga akhirnya mulai ditempati pada 1901.
"Dibangun oleh buyut saya sejak 1896, tapi baru ditempati 1901 sampai sekarang," ujar Akhmad Choiri, salah satu keturunan Hadji Djaelan, pada Minggu (21/9).
Rumah Gajah Mungkur terdiri dari dua bangunan besar. Bangunan utama masih difungsikan sebagai tempat tinggal keluarga hingga kini, sementara bangunan kedua dulunya merupakan rumah singgah khusus bagi tamu-tamu Hadji Djaelan yang datang dari berbagai daerah.
Meskipun telah berusia lebih dari satu abad, keaslian arsitektur Rumah Gajah Mungkur tetap terjaga dengan baik. Banyak perabotan peninggalan Hadji Djaelan yang masih dirawat, mulai dari kursi, lemari kayu, hingga sebuah jam tua yang masih berfungsi dengan sistem tarikan manual.
Keunikan lain terlihat pada kaca jendela asli buatan Belanda yang masih bertuliskan "Bovvy Dordt." Kaca-kaca jendela ini diukir secara manual, sehingga meskipun gambarnya serupa, detail ukirannya tidak pernah identik.
"Ini kaca jendelanya masih asli buatan Belanda. Masih ada tulisan Bovvy Dordt. Kaca-kaca jendela itu diukir manual, jadi meskipun gambarnya sama detail ukirannya tidak pernah identik," imbuh Choiri.
Tak hanya dari Belanda, sebagian besar perabotan di rumah ini dibawa langsung dari luar negeri. Hal ini tak lepas dari aktivitas dagang Hadji Djaelan yang kerap melakukan perjalanan lintas negara.
Bahkan, sebuah lemari jati tua di rumah tersebut terukir nama Hadji Djaelan Bin Oemar Soerabaya, sebuah penanda bahwa pada awal abad ke-20, Gresik masih termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Surabaya.
Bagi keturunannya, rumah ini lebih dari sekadar warisan keluarga. Choiri menegaskan bahwa Rumah Gajah Mungkur menyimpan sejarah panjang perjuangan leluhurnya dalam mengembangkan perdagangan di tanah Jawa.
"Semua ini menyimpan sejarah, terutama tentang perjuangan buyut saya dalam berdagang. Rumah ini bukan hanya saksi bisu kehidupan keluarga, tapi juga bagian dari sejarah perdagangan Gresik pada masa itu," pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany Akasah