RADAR GRESIK - Di tengah gempuran permainan modern, ada satu permainan tradisional khas Gresik yang masih diminati hingga saat ini dan tak jarang dimainkan bersama, yaitu dolanan Wok-wokan.
Dolanan sederhana ini bukan hanya mengasyikkan, tapi juga bermanfaat untuk melatih kelincahan dan kekompakan.
Wok-wokan mulai muncul sekitar tahun 1970-an, dan biasa dimainkan oleh anak-anak Sekolah dasar (SD) sebagai pengisi waktu bermain di waktu senggang usai sekolah.
Menurut lin Budiarti, salah satu warga Gresik, mnyatakan bahwa dolanan wok-wokan ini sangat terkenal pada eranya. Hampir seluruh anak- anak di Gresik bisa memainkan dolanan ini.
"Dulu dolanan wok-wokan sangat terkenal, sekarang sudah mulai punah," ujar lin.
Cara dolanan wok-wokan tidaklah rumit, dalam memainkan dolanan ini anak-anak menggunakan buah dari pohon lerek atau klerek yang banyak ditemukan di sekitar rumah.
yang Pertama dilakukan adalah membuat dua lubang kecil. Lubang tersebut jaraknya sekitar 2 meter. Permainan ini biasa dimainkan oleh beberapa orang, setiap orang wajib memiliki buah klerek minimal 5 atau lebih.
Setiap orang harus memasukkan buah klerek ke dalam sebuah lubang kecil di tanah yang biasa disebut dengan wok. Bagi yang berhasil memasukkan maka ia berhak menyentil klerek lawan yang tidak bisa masuk lubang, bila klerek lawan terkena sentilan, maka klerek tersebut menjadi milik yang menyentil.
Menurut Loemaksono, pengarang Buku Gresik Tempo Dulu mengungkapkan bahwa dalam sebuah permainan Tradisional yang di miliki oleh kota Gresik sendiri tidak hanya memiliki tujuan sebagai hiburan semata, tetapi juga lahir dengan sebuah filsafah yang bisa kita fahami sendiri dalam permainan tersebut.
"Tidak hanya di Gresik, semua kota juga memiliki berjuta dolanan yang khas dan memiliki filsafahnya masing- masing tergantung bagaimana kita menerima dan memberikan arti dari pada permainan tersebut." Ujar Loemaksono
Ditambahkannya pula, bahwa dolanan wok-wokan ini, nenek moyang kita telah mengajarkan bahwasannya dalam dolanan ini terdapat arti tentang bagaimana menghargai yang sudah di berikan kepada kita, dan membenarkan apa yang memang sudah terlihat benar. (Sya/Han)
Editor : Hany Akasah