Kebomas – Pemerintah mempercepat transformasi pelabuhan nasional melalui program Green and Smart Port Initiatives (GSPI) ASRI 2026. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting untuk menekan biaya logistik, memperkuat rantai pasok pangan, sekaligus mewujudkan pelabuhan yang ramah lingkungan dan berbasis digital.
Dengan mengusung tema "Hijau Hari Ini, Cerdas Esok Hari, Ketahanan Pangan Selamanya", kegiatan ini GSPI digelar di dermaga Terminal Khusus PT Petrokimia Gresik. Acara ini dihadiri langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri KKP, Wahyu Sakti Trenggono, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, Menteri Perdagangan Budi Santoso, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto.
Dalam ajang GSPI ASRI 2026, Pelabuhan TUKS Petrokimia Gresik berhasil meraih predikat Bintang 5, penghargaan tertinggi dalam penilaian Green and Smart Port.
Dalam sambutannya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan pembenahan sektor logistik nasional tidak bisa dilakukan dengan pendekatan biasa karena persoalannya sangat kompleks. Salah satu persoalan yang masih sering diterimanya adalah kapal-kapal berukuran besar yang belum dapat bersandar dan membongkar muatan di sejumlah pelabuhan akibat kedalaman alur (draft) yang belum memadai.
Akibatnya, kapal harus terlebih dahulu membongkar muatan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, sebelum didistribusikan ke daerah lain. Kondisi tersebut dinilai memperpanjang rantai distribusi sekaligus meningkatkan biaya logistik nasional.
"Masih banyak laporan kapal tidak bisa bongkar karena draft pelabuhan belum cukup dalam. Akhirnya harus bongkar di Jakarta sehingga biaya logistik menjadi lebih mahal," ujar Zulkifli Hasan.
Ia menilai tantangan sektor logistik, terutama dalam mendukung distribusi pangan dan pupuk, membutuhkan terobosan kebijakan, bukan sekadar rutinitas administratif.
Zulkifli juga mencontohkan bagaimana penyederhanaan regulasi mampu memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian. Menurutnya, pemerintah memangkas 33 regulasi menjadi hanya tiga regulasi untuk mempercepat distribusi dan penyaluran pupuk kepada petani.
Dampaknya, serapan pupuk meningkat sehingga mendorong kenaikan produksi pertanian sekitar 7-8 persen atau bertambah sekitar 2,4 juta ton dari produksi sebelumnya sekitar 30 juta ton.
Selain itu, pemerintah juga merevisi aturan pembelian gabah. Jika sebelumnya pembelian gabah mensyaratkan kadar air tertentu dengan harga Rp5.500 per kilogram, kini persyaratan kadar air dihapus dan harga pembelian dinaikkan menjadi Rp6.500 per kilogram.
Menurut Zulkifli, perubahan dua regulasi tersebut berhasil meningkatkan minat petani untuk menanam sehingga produksi gabah meningkat sekitar 2 persen dan menghasilkan surplus beras mencapai 4,2 juta ton.
"Hanya dengan memperbaiki dua regulasi saja hasilnya sudah sangat besar. Karena itu persoalan logistik juga harus diselesaikan dengan kebijakan yang tepat," tandasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia GSPI ASRI 2026 yang juga CEO IDSurvey, Ari Sudono, mengatakan Green and Smart Port merupakan upaya membangun ekosistem logistik nasional melalui pengembangan pelabuhan yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan.
"Transformasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, konektivitas, dan daya saing logistik nasional sekaligus mendorong terwujudnya pelabuhan Indonesia berkelas dunia," kata dia.
Dalam asesmen GSPI, komposisi penilaian terdiri atas 80 persen aspek Green Port yang meliputi manajemen dan teknis, serta 20 persen aspek Smart Port yang berfokus pada digitalisasi. Pada aspek Green Port, bobot penilaian terdiri atas lingkungan 50 persen, produktivitas 22 persen, manajemen 16 persen, dan energi 12 persen. Sementara aspek Smart Port meliputi kegiatan operasional 52 persen, sistem administrasi dan operasional pelabuhan 30 persen, sistem keamanan dan manajemen pelabuhan 15 persen, serta inovasi 3 persen.
Program Green and Smart Port pertama kali dilaksanakan pada 2019. Setelah sempat terhenti selama pandemi pada 2020-2021, asesmen kembali dilakukan pada 2022 dengan pembaruan indikator.
"Mulai 2023 diterapkan konsep penilaian baru dengan komposisi 80 persen Green Port dan 20 persen Smart Port, kemudian pada 2025 indikator penilaian diperkuat dengan memasukkan aspek ASRI sebagai dukungan terhadap inisiatif Presiden Republik Indonesia," paparnya.
Terpisah, Direktur Utama PT Petrokimia Gresik, Daconi Khotob mengatakan capaian ini memperkuat rekam jejak TUKS Petrokimia Gresik yang sebelumnya juga mencatat skor tertinggi Assessment Green and Smart Port pada 2022 dan kembali menjadi yang terbaik pada 2025, sekaligus memperoleh pengakuan internasional melalui Green Port Award System (GPAS).
Editor : Cak Fir