RADAR GRESIK – Badai kenaikan harga bahan baku mulai menghantam pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Gresik pasca Lebaran 2026.
Lonjakan harga kemasan plastik yang mencapai angka 40 persen menjadi beban berat, terutama bagi pengusaha minuman yang sangat bergantung pada botol plastik.
Salah satu pelaku UMKM, M. Ismail Fahmi, mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga ini mulai terasa sejak akhir Maret 2026. Pemilik usaha minuman tradisional Temulawak Eson ini mengaku harus memutar otak menghadapi lonjakan biaya produksi yang signifikan.
Baca Juga: Sadis! Pengeroyokan di Kantor Koperasi Jalan Veteran Gresik Terungkap, Tiga Pelaku Diringkus Polisi
"Kenaikannya sekitar 30 sampai 40 persen. Saya bahkan sampai harus mencari barang langsung ke pabrik di Rungkut, karena stok di toko-toko retail banyak yang kosong," ujar Fahmi, Selasa (21/4).
Ia merinci, harga botol plastik yang sebelumnya dibanderol Rp 650 per botol, kini melambung menjadi Rp 1.000 per botol. Kenaikan sebesar Rp 350 per unit tersebut secara otomatis membuat modal kerja membengkak, sementara harga jual di pasaran cenderung stagnan.
Fahmi menjelaskan, sulitnya menaikkan harga jual di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat margin keuntungan menipis. Saat ini, ia terpaksa merelakan keuntungannya turun drastis demi menjaga keberlanjutan usaha.
Baca Juga: Imanda Ratining Putri Membawa Semangat Kartini dari Industri Lokal Gresik Menuju Pasar Global
"Kalau sebelumnya bisa untung Rp 2.000 per botol, sekarang mungkin hanya Rp 1.000. Kami jual ke agen Rp 4.500. Margin kami semakin tipis karena tidak bisa langsung menaikkan harga ke konsumen. Kalau terlalu mahal, nanti konsumen lari," imbuhnya dengan nada khawatir.
Hingga saat ini, para pelaku usaha minuman di Gresik mengaku masih terjebak pada penggunaan plastik sebagai wadah utama. Minimnya alternatif kemasan yang ekonomis dan fungsional menjadi tantangan tersendiri.
"Kami belum menemukan pengganti yang cocok. Untuk produk minuman seperti ini, memang wadah botol plastik masih menjadi pilihan utama yang paling memungkinkan," tutup Fahmi.
Baca Juga: Peringati HBP ke-62, Petugas Rutan Gresik Unjuk Kekompakan di Lomba Tradisional Korwil Surabaya
Kondisi ini diharapkan mendapat perhatian dari pihak terkait, agar rantai pasokan bahan baku kemasan kembali stabil dan tidak semakin menekan pertumbuhan UMKM lokal di Gresik. (jar/han)
Editor : Hany Akasah