Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

KEK Gresik, Jadi Pendorong Industri Manufaktur dan Beri Multiplier Effect Ekonomi Jatim

Nurista Purnamasari • Jumat, 29 Maret 2024 | 03:16 WIB
DOC. AKR LAND  APINDO Jatim bersama AKR Land usai pemaparan project AKR GEM City di Aston Gresik.
DOC. AKR LAND APINDO Jatim bersama AKR Land usai pemaparan project AKR GEM City di Aston Gresik.

RADAR GRESIK – Sektor industri di Jawa Timur (Jatim) diperkirakan bakal tumbuh pesat. 

Salah satunya dengan adanya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE yang berada di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. 

JIIPE telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Indonesia oleh Presiden Indonesia pada tahun 2021. 

JIIPE sebagai KEK Indonesia merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang akan menjawab kebutuhan Industri 4.0. 

JIIPE menyediakan konektivitas yang unggul dengan transportasi multimoda, pelabuhan laut dalam yang terhubung, utilitas lengkap satu atap, izin lingkungan, dan izin konstruksi cepat. 

Status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) akan memberikan tambahan insentif bagi investor. 

Manfaatnya termasuk pajak penghasilan yang lebih rendah dan pajak bea cukai.

Hadirnya Kawasan Industri dan Pelabuhan terpadu tersebut dipastikan akan menjadi daya tarik bagi investor. 

Apalagi hadirnya Smelter PT Freeport Indonesia yang dipastikan bakal menciptakan multiplier effect sehingga mendongkrak perekonomian dan penyerapan tenaga kerja.

 

Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono optimistis pembangunan pabrik pengolahan hasil tambang (smelter) tersebut mampu mendongkrak perekonomian Jatim. 

"Dari sisi lapangan pekerjaan, tenaga kerja pembangunan smelter secara kumulatif telah menyerap sekitar 30 ribu orang," katanya beberapa waktu lalu. 

Adi menambahkan, secara keseluruhan 99 persen pekerja di smelter tersebut dari Indonesia, dimana 60 persen di antaranya merupakan pekerja dari wilayah Jatim. 

Sehingga nantinya multiplier effect tersebut tak hanya terkait perusahaan tersebut, tapi berdampak ke sektor lain.  

Seperti usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), usaha rumahan, logistik, transportasi, hingga properti.

Beberapa waktu lalu Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jatim melakukan kunjungan ke KEK JIIPE Gresik. 

Ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengenalkan dan menjaring investor kepada kawasan industri terintegrasi tersebut. 

Sekretaris Eksekutif Apindo Jatim, Aslakhul Umam mengatakan, dari program kunjungan ke KEK JIIPE Gresik dan AKR Gem City ini bisa memberikan manfaat atau keuntungan bersama. 

Apindo melihat hadirnya kawasan ini menambah market yang lebih besar. Apalagi jika investor atau para pengusaha masuk atau berekspansi ke kawasan tersebut. Terlebih di Gresik memiliki banyak potensi bisnis. 

”Apalagi kalau Smelter Freeport sudah beroperasi, setahun dua tahun kawasan ini akan jadi jujukan investor, ditambah AKR Land punya logistik pergudangan yang bagus, serta tawaran hunian yang strategis,” jelas Umam.

Head of Region II PT AKR Surabaya Land Corporindo Andi Setiyawan ikut mendorong para investor untuk berinvestasi di Jatim, khususnya KEK JIIPE Gresik karena memiliki peluang bisnis yang luar biasa ke depannya. 

Tenant-tenant di JIIPE saat ini merupakan Perusahaan besar yang berskala international seperti PT Freeport Indonesia, PT Hailiang Nova Material Indonesia, PT Xinyi Glass Indonesia dan perusahaan-perusahaan besar lainnya dan ini menjadi daya tarik dan daya jual yang mampu memberikan multiplier effect ke ekonomi Jatim.

“JIIPE, Java Integrated Industrial and Ports Estate merupakan mega proyek dengan luas 3.000 hektare. 400 hektare untuk Pelabuhan, 1.800 hektare untuk Kawasan Industri dan 800 hektare untuk hunian dan area komersial yaitu AKR Grand Estate Marina (GEM) City,” papar Andi. 

AKR GEM City sendiri merupakan komponen JIIPE yang hadir untuk memenuhi kebutuhan akan hunian yang nyaman dan beragam dengan fasilitas yang lengkap. 

Menurut Andi, AKR Grand Estate Marina (GEM) City ini juga memiliki potensi investasi yang sangat menguntungkan.

AKR GEM City adalah kota mandiri bertaraf internasional yang terintegrasi dengan JIIPE.

Karena yang ada di kawasan JIIPE saat ini dan ke depannya adalah perusahaan-perusahaan internasional.

Salah satunya PT Freeport Indonesia yang sudah menempati lahan seluas 100 hektare untuk Smelter Freeport dan diprediksi akan melakukan pengembangan berikutnya. 

“Seperti program pemerintah, kita itu mau hilirisasi industri. Sekarang yang sudah bisa kita lihat adalah Smelter Freeport. Tambangnya kan di Papua. Dari Papua itu materialnya dibawa ke sini (Gresik, red) untuk dimurnikan, sehingga kita tidak mengekspor bahan mentah lagi. Dan akan lebih bagus lagi bila kita bisa memproduksi barang jadi,” urai Andi. “Kehadiran Smelter Freeport ini membawa efek perusahaan-perusahaan internasional lainnya untuk hadir meramaikan JIIPE untuk mengolah dan memproduksi barang jadi,” imbuhnya.

Perusahaan-perusahaan ini yang akan menjadi potensi market untuk AKR GEM City. 

Masterplan AKR Gem City, mengingat karyawan yang berada di JIIPE jumlahnya sangat besar dan memerlukan hunian yang nyaman dan dekat dari tempat kerja.

 Untuk kenyamanan AKR GEM City menyiapkan beberapa fasilitas bisnis seperti perkantoran, perbelanjaan, mal, kawasan pendidikan, hotel, dan fasilitas lainnya. 

“Pasar yang dituju oleh AKR GEM City juga kaum milennial yang sedang memulai berkarir di area JIIPE dan sekitar Gresik, dan oleh karena itu harga yang di-release pun cicilan tiap bulannya nyaman di kantong, sekitar Rp 3 jutaan setiap bulan,” lanjut Andi.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Jatim Adik Dwi Putranto menambahkan, pihaknya optimistis pertumbuhan industri Jatim, termasuk manufaktur bakal terus menguat. 

"Saat ini ada sejumlah proyek strategis nasional yang sudah dalam tahap penyelesaikan dan dkiperkirakan secepatnya bisa beroperasi. Industri-industri besar ini akan lebih mengerek kinerja sektor industri di Jatim," ujarnya. 

Smelter Freeport di KEK Gresik JIIPE menjadi salah satu peluangnya. Industri pemurnian ini dijadwalkan bisa mulai beroperasi pada Mei tahun ini. 

"Pembangunan smelter yang menghabiskan investasi sebesar Rp 465 triliun ini memiliki kapasitas produksi sebesar 1,7 juta ton anoda atau katoda tembaga per tahun. Sehingga bisa memproduksi tembaga sekitar 3 juta ton per tahun," katanya.

Di sektor industri manufaktur, lanjut Adik, pertumbuhannya juga sangat bagus. 

Jika nasional menargetkan pertumbuhan industri manufaktur mencapai 30 persen di tahun 2045, maka pertumbuhan industri manufaktur Jatim tahun lalu sudah mencapai lebih dari 30 persen. 

"Dan sektor ini berkontribusi besar terhadap PDRB Jatim, mencapai 30 persen lebih juga. Apalagi industri ini termasuk industri yang menjadi fokus utama Pemprov Jatim," jelasnya. (*/nur)

Editor : Hany Akasah
#Apindo #akr #Industri #KEK #JIIPE