Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo menyampaikan bahwa, Asam Fluorosilikat adalah produk samping yang dihasilkan dari Pabrik Asam Fosfat Petrokimia Gresik, dan produk ini selanjutnya diolah menjadi Aluminium Fluoride yang dibutuhkan industri peleburan aluminium untuk menurunkan melting point, menaikkan conductivity electrolyte serta menurunkan pemakaian power.
Baca Juga : Kodim 0817 Gresik dan Petrokimia Ubah Lahan Tidur Jadi Produktif
“Kebutuhan Aluminium Fluoride akan terus meningkat sejalan dengan target pemerintah terkait produksi aluminium nasional sebesar 1,5 hingga 2 juta ton pada tahun 2025, selaras dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN). Kami siap mendukung rencana tersebut,” tandas Dwi Satriyo, Selasa (20/12).
Desain awal Pabrik Asam Fosfat Petrokimia Gresik adalah menggunakan bahan baku phosphate rock Jordan dengan kualitas high grade. Namun karena kondisi cadangan phosphate rock high grade dunia yang semakin menipis menjadikan tantangan tersendiri bagi perusahaan untuk mencari alternatif bahan baku sebagai solusi.
Melalui inovasi ini, akhirnya tidak hanya mampu memenuhi bahan baku pembuatan Asam Fosfat, tetapi juga mendapatkan beberapa keuntungan lain yang diperoleh perusahaan. Pertama, penghematan biaya hingga miliaran rupiah. Petrokimia Gresik tidak lagi harus membeli phosphate rock high grade, melalui inovasi ini spesifikasi tersebut dapat digantikan dengan phosphate rock medium grade, dengan hasil kualitas dan kapasitas produk yang tetap terjaga. Penghematan ini sekitar Rp 11,7 miliar dalam setahun.
Kedua, improvement ini mampu meningkatkan produksi Asam Fluorosilikat yang setara dengan penghematan sekitar Rp 3,7 miliar per tahun serta menjadikan kandungan sludge atau endapan lumpur dan suspended solid produk asam fosfat lebih rendah, sehingga dapat memperpanjang interval cleaning tangki asam fosfat (tank yard) dengan penghematan sekitar Rp 333 juta per tahun.
Baca Juga : Petrokimia Gelontorkan 1.000 Paket Sembako ke Korban Erupsi Semeru
Ketiga, improvement yang dilakukan juga mendukung prinsip industri hijau dimana terdapat penurunan lossesAsam Fluorosilikat sehingga beban kerja waste water treatment plant ikut menurun yang setara dengan penghematan sekitar Rp1,2 miliar per tahun. Disampaikan Dwi Satriyo, Petrokimia Gresik pada setiap inovasinya tidak hanya berpikir efisiensi dan efektivitas dari proses bisnis semata, tapi juga memprioritaskan dampak positifnya bagi lingkungan.
Berkat improvement pada proses produksi ini, Petrokimia Gresik berhasil meraih penghargaan Rintisan Teknologi Industri (RINTEK) dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI. Penghargaan secara simbolis diterima langsung oleh Dwi Satriyo yang diserahkan oleh Staf Ahli Menteri Bidang Iklim Usaha dan Investasi, Andi Rizaldi di Jakarta, baru-baru ini. (fir/han) Editor : Hany Akasah