RADAR GRESIK - Masyarakat harus waspada dengan penyakit demam berdarah dangue (DBD). Pasalnya, kini kasus DBD di Kabupaten Gresik makin mengancam jiwa. Faktanya, ada satu pasien yang meninggal setelah teridentifikasi DBD.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik dr Puspitasari Whardani mengatakan, kasus pasien DBD setiap tahun meningkat.
Pada semester pertama yakni bulan Januari-Juli 2023 tercatat sebanyak 120 pasien.
Sedangkan pada bulan Januari-Juli 2022 tercatat sebanyak 172 pasien. "Tahun ini, mulai Januari hingga pertengahn Juni 2024 mencapai 250 pasien. Nyaris naik dua kali lipar yang terserangng DBD," kata dr Puspita.
Menurut data Dinkes Gresik, dari 250 pasien yang terserang penyakit DBD mayoritas pasien berasal dari kecamatan Manyar dengan rata-rata usia 5-14 tahun.
“Setelah dokumen Hasil lab dan keterangan dari RS diserahkan pada puskesmas setempat melalui bidan desa tempat tinggal pasien. Nakes puskesmas akan menindaklanjuti laporan tersebut dengan melaksanakan penyelidikan epidemiologi (PE) pada rumah pasien dan lingkungan sekitarnya,” ungkapnya.
Dinkes merincikan kasus DBD di berbagai kecamatan seluruh wilayah Gresik. Di antaranya, Kecamatan Duduksampeyan terdapat tujuh orang, Gresik dengan jumlah 28, Cerme 12 pasien. Kecamatan Benjeng ada 19 pasien.
Kecamatan Kebomas ada 28 dan Menganti sejumlah 24 orang serta Manyar ada 44 pasien. Di Kecamatan Balongpanggang ada 17 pasien, sedangkan Bungah mencapai 15 orang.
Kecamatan Wringinanom ada 13 dan Driyorejo ada 18. Lalu, Kecamatan Kedamean ada 7 orang serta Dukun terdiri dari tigas pasien. Di wilayah Panceng, Ujungpangkah dan Sidayu ada 5 pasien masing-masing kecamatan.
“Dalam hal ini, kami koordinasi dengan puskesmas terkait tindakan selanjutnya. Serta melakukan edukasi gejala DBD dan pencegahannya, agar menghindari kasus serupa terjadi,” tandasnya.
Pihaknya langsung melaksanakan fogging yang berkoordinasi antara puskesmas dengan aparat desa di wilayah tersebut. (yud/han)
Editor : Hany Akasah