RADAR GRESIK-Berkat adanya program JKN, Anisah, 60 yang merupakan salah satu pasien diabetes melitus (DM) bisa menjalani pengobatannya dengan program JKN BPJS Kesehatan. Saat ditemui Anisah akan berobat di Klinik Petrokimia Gresik, perempuan lanjut usia (lansia) yang berdomisili di Randuagung Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik itu menyampaikan bahwa dirinya dan keluarga berasal dari segmen pensiunan.
“Setelah pensiun, kami langsung mendapat jaminan kesehatan melalui program JKN. Kehadiran JKN dalam kehidupan kami sungguh nyata kami rasakan manfaatnya. Pelayanannya juga sama dengan waktu kami bekerja dan dicover asuransi hingga sekarang dicover BPJS Kesehatan. Pelayanannya sama obatnya juga sama,” kata Anisah.
Setelah pensiun tahun 2016, ia sudah seringkali hilir-mudik ke Rumah Sakit untuk menjalani perawatan atas sakit yang dideritanya dengan hanya bermodalkan Kartu JKN yang dimilikinya saat ini.
“Penyakit tua, komplikasi. Ya jantung, darah tinggi, kolekterol, asam urat. Lengkap penyakitnya.. Apalagi semenjak saya didiagnosa oleh dokter terkena penyakit Diabetes Melitus (DM) dan sudah komplikasi juga dengan jantung. Gejala yang saya rasakan saat itu mulai dari sering merasa haus dan lapar, sering buang air setiap tengah malam hingga penurunan berat badan yang cukup signifikan,” tutur Anisah.
Menjalani rawat jalan untuk penyakit yang diderita Anisah di usai senja tentulah tidak mudah. Ia harus sering kontrol mulai dari FKTP hingga Rumah Sakit demi untuk sembuh. Meskipun demikian dirinya tidak pernah putus asa untuk menjalani pengobatan yang saat ini ia tempuh.
“Saya akan selalu bersemangat supaya bisa sehat. Apalagi dengan program JKN, saya tidak perlu risau untuk perjuangan saya menuju sehat tersebut. Saya sangat berterimakasih kepada pemerintah yang sudah memikirkan saya dan keluarga dalam hal kesehatan,” ungkapnya dengan nada haru.
Pada pertengahan tahun 2023, Anisah sempat dirawat di rumah sakit. Tiba-tiba ia terkena struk ringan. Ia mengaku tak sedikitpun ia diperlakukan berbeda dengan pasien umum lainnya. Bahkan, dirinya semnpat minta pindah ruangan karena usai masuk ICU 5 hari. “Keluar dari ICU saya dirawat di kamar dekat IGD, berisik sekali. Lalu lalang orang. Minta pindah kamar dengan kelas yang sama dan alhamdulillah RS memperkenankan,” kata nenek 7 cucu tersebut.
“Sudah sering sekali ketemu dengan dokter dan perawat disana, tapi saya tak merasakan adanya perbedaan. Saya tetap dilayani dengan baik oleh pihak RS,” ulasnya.
Meskipun saat ini Anisah adalah salah satu peserta JKN yang rutin menjalani perawatan, ia tergolong orang yang ringan tangan untuk membantu masyarakat yang berada di sekitarnya, ketika harus menjalani perawatan di FKTP maupun rumah sakit.
“Saya hanya senang saja membantu masyarakat sekitaran tempat saya tinggal untuk berobat. Malah saya juga sering cerita kepada mereka tentang program JKN yang sudah banyak membantu saya selama ini. Dengan cerita tersebut pada akhirnya tetangga sekitaran saya banyak juga yang sadar dengan JKN. Saya juga sering sampakan bahwa kesehatan itu mahal dan harus diproteksi. Karena ketika sakit tidak dapat diperkirakan,” ungkap Anisah.
Anisah berharap agar program JKN semakin berkembang agar lebih banyak masyarakat yang merasakan manfaat nyata darinya. “Saya sangat berharap agar BPJS Kesehatan semakin berkembang dan semakin banyak membantu masyarakat yang membutuhkan. Apalagi, makin tua penyakit makin menumpuk. Kalau kita tidak punya BPJS Kesehatan siapa yang membiaya pengobatan secara murah. Uang sudah tidak punya karena tidak kerja. Ya cukup dengan BPJS Kesehatan saja tidak khawatir hari tua nanti,,” tutupnya. (*/han)
Editor : Hany Akasah