RADAR GRESIK – Dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-97 tahun 2025, Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBPPA) Kabupaten Gresik, bekerja sama dengan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) dan Puspa Pinatih Kabupaten Gresik, menyelenggarakan seminar bertajuk "Pengembangan Karakter Anak Melalui Implementasi Disiplin Positif di Lingkungan Keluarga." (11/12)
Acara yang berlangsung meriah di Gedung Nasional Indonesia (GNI) ini dihadiri oleh berbagai unsur organisasi perempuan tangguh di Kabupaten Gresik.
Mereka yang hadir antara lain TPPKK, Dharma Wanita Persatuan, Puspa Pinatih, Sekolah Perempuan, Gaspol, Ojek Perempuan Gresik (OPG), Kebun Pemulihan Gresik, Forum Anak Gresik, Generasi Berencana, IPPNU, dan IPM.
Kepala Dinas KBPPA Kabupaten Gresik, Dr. Titik E. Nawati, M.H., dalam sambutannya menekankan komitmen Pemerintah Kabupaten Gresik dalam memperkuat peran keluarga melalui pengasuhan yang ramah anak.
"Disiplin positif adalah fondasi untuk membentuk kebiasaan yang baik. Ini adalah jembatan menuju kemandirian," ujar Ibu Titik, menegaskan bahwa penerapan disiplin positif sangat krusial.
Beliau juga menyampaikan rasa bangganya atas apresiasi dari Kementerian PPPA terhadap Kabupaten Gresik sebagai satu-satunya kabupaten yang telah mencantumkan nomenklatur GEDSI (Gender Equality, Disabilitas, dan Sosial Inklusi) dalam RPJMD, yang merupakan bukti keberhasilan dalam penganggaran responsif gender di semua OPD.
Sementara itu, Ketua GOW Kabupaten Gresik, Dr. Sinta Puspitasari Asnuful Alif, M.Kes., yang turut membuka acara, menyoroti peran sentral ibu.
"Ibu-ibu ini adalah arsitek karakter untuk generasi penerus bangsa," tegas Ibu Sinta.
Ia menambahkan, di era derasnya informasi serta tuntutan ibu yang juga bekerja (Gen Z dan Alpha), pola pengawasan dan strategi mendidik harus disesuaikan.
Disiplin positif ditekankan sebagai upaya menanamkan nilai-nilai integritas, empati, tanggung jawab, dan etos kerja, serta menyiapkan anak agar mandiri.
Ibu Sinta berpesan agar pengasuhan dilakukan dengan merangkul, mengayomi, dan menghargai dengan cinta kasih, sebab pendekatan yang terlalu keras dikhawatirkan akan membuat anak menjauh.
Dalam kesempatan ini, Dinas KBPPA juga memberikan penghargaan kepada delapan organisasi perempuan atas kontribusi aktif mereka dalam mendukung perlindungan perempuan dan anak.
Mereka yang menerima penghargaan meliputi Tim Pengerak PKK Kabupaten Gresik (melalui program Rumah Silaturahmi), Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Gresik, Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Gresik, Pimpinan Cabang Muslimat NU Gresik (melalui Pondok Lansia), Pimpinan Cabang Fatayat NU Gresik (melalui LKP3A), Pimpinan Daerah Aisyiyah Gresik (melalui program GALA), Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Gresik (melalui program Tasminah), dan Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Gresik (melalui program Cinta ABK)
Ibu Titik E. Nawati berharap organisasi perempuan yang belum memiliki layanan khusus perlindungan perempuan dan anak dapat segera membentuk layanan pengaduan dan pendampingan, sehingga tercipta jejaring layanan yang kuat.
Beliau juga memastikan bahwa anggaran untuk kasus kekerasan, seperti visum medikolegal dan biaya pengobatan cedera berat, telah dialokasikan di Dinas KBPPA.
Acara juga diwarnai dengan penyerahan bingkisan dari Baznas Kabupaten Gresik kepada perwakilan perempuan hebat dari Gerakan Sayang Perempuan Ojek Online (Gaspol) dan Ojek Perempuan Gresik (OPG).
Sesi utama seminar diisi oleh H. Ari Cahyono, S.S., TP, M.Si., CH., CHTM., NLP., seorang Widya Iswara Provinsi Jawa Timur dari BKPSDM.
Dalam pemaparannya yang mendalam, Ari menyampaikan materi tentang ilmu Neuroscience dan kaitannya dengan cara menasihati anak, termasuk berbagi pengalaman pribadinya yang transformatif dalam pengasuhan.
Ari berbagi kisah saat ia harus mengurus bayinya secara intensif, sebuah pengalaman yang membuatnya merasakan sakit hingga vertigo dan akhirnya pingsan, yang membukakan matanya akan besarnya perjuangan seorang ibu.
"Disitulah saya berbicara tentang bagaimana apa yang kita lakukan, kehadiran seorang ayah dalam parenting itu penting," ungkapnya.
Ari menyoroti bahwa Indonesia masih dikategorikan sebagai Fatherless Country (negara yang kehilangan figur seorang ayah). Ia mengajak para peserta untuk merefleksikan nasib keluarga dengan single parent atau ibu yang menjadi buruh migran, di mana figur ayah kerap absen, dan betapa pentingnya peran ayah dalam membentuk karakter anak. (zah/han)
Editor : Hany Akasah