Kebomas – Inovasi tidak selalu lahir dari kota besar. Di Kabupaten Gresik, sebuah terobosan penting dalam penanggulangan bencana justru lahir dari tangan seorang birokrat senior yang tenang namun visioner, Sukardi yang merupakan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gresik, ia membawa lembaga yang dipimpinnya naik kelas. Dari sekadar reaktif pada bencana, kini menjadi proaktif dengan sistem berbasis teknologi mutakhir. Dari yang semula minim prestasi, kini menjadi juara 1 Jungle Rescue Provinsi Jatim.
Sukardi meyakini, bencana harus ditangani dengan pendekatan ilmiah dan sistematis. Tidak cukup hanya dengan sirene manual atau pengumuman mendadak. Karena itu, ia memperkenalkan Early Warning System (EWS) berbasis Internet of Things (IoT). Sistem ini memanfaatkan sensor canggih yang mampu memantau kondisi lingkungan secara real-time, mengolah data, dan mengirimkan peringatan cepat melalui SMS maupun WhatsApp kepada masyarakat.
“Mitigasi bencana tidak boleh lagi manual. Kita harus memanfaatkan data, sensor, dan teknologi agar masyarakat mendapat informasi secepat mungkin. Kesiapsiagaan adalah kunci,” kata Sukardi kepada Radar Gresik.
Dia menuturkan, Kabupaten Gresik memang memiliki tantangan besar. Dengan kondisi geografis yang didominasi dataran rendah, keberadaan sungai besar, dan curah hujan yang tinggi, potensi banjir, kekeringan, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem selalu mengintai. Selama ini, keterlambatan informasi sering membuat warga tidak sempat melakukan evakuasi dini. EWS yang digagas Sukardi menjawab persoalan itu dengan solusi nyata.
Di bawah kepemimpinannya, BPBD Gresik bergerak lebih progresif. Bukan hanya fokus pada tanggap darurat, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, membangun sekolah dan desa tangguh bencana, serta menyusun peta rawan bencana berbasis data ilmiah. Baginya, teknologi hanyalah alat. Kunci keberhasilan tetap ada pada kesadaran dan partisipasi warga.
“Teknologi akan sia-sia bila tidak didukung kesadaran publik. Karena itu, kami terus mendorong edukasi, simulasi evakuasi, dan gotong royong warga dalam menghadapi bencana,” ungkapnya.
Program prioritas pun dirancang secara berlapis. Mulai dari pemasangan sensor banjir di titik-titik rawan, hingga pengembangan EWS untuk potensi bencana lain seperti gelombang ekstrem, kebakaran lahan, dan longsor. Data yang terkumpul tidak hanya berguna untuk peringatan dini, tetapi juga menjadi dasar analisis tren jangka panjang dan pengambilan keputusan kebijakan publik yang lebih tepat sasaran.
Langkah Sukardi sejalan dengan visi besar pemerintah daerah dalam Nawakarsa Gresik Baru, khususnya cita-cita “Gresik Mapan, bebas banjir.” Dengan EWS terintegrasi, cita-cita itu semakin mendekati kenyataan.
Transformasi yang ia lakukan membuat BPBD Gresik kini dipandang sebagai contoh model lembaga penanggulangan bencana daerah yang modern, adaptif, dan berbasis teknologi.
“Bencana bukan hanya soal korban jiwa. Kalau tidak ditangani dengan ilmiah, dampaknya merembet pada ekonomi dan lingkungan. Karena itu, penanggulangan bencana adalah bagian integral dari pembangunan,” tandasnya.
Dengan kombinasi teknologi modern dan kearifan lokal berupa gotong royong, ditangan Sukardi, BPBD Gresik kini tampil lebih sigap, lebih tangguh dan lebih dekat dengan masyarakat. Inovasi yang ia rintis menjadi bukti bahwa kepemimpinan visioner dapat melahirkan perubahan besar, bahkan dalam menghadapi tantangan sebesar bencana alam.
Editor : Cak Fir