GRESIK-Kemarau panjang yang melanda Gresik sejak beberapa bulan terakhir membuat sejumlah areal persawahan mengalami kekeringan. Meski begitu, dari data yang dimiliki Dinas Pertanian (Dispertan) Gresik lahan produktif yang terimbas kekeringan tidak banyak. Para petani masih bercocok tanam memanfaatkan sumber air tanah.
Sampai saat ini, lahan pertanian yang terdampak kekeringan hanya terjadi di Desa Kedunganyar, Wringinanom. Lahan padi seluas 24 hektar rusak akibat kemarau panjang.
“Disana sumber air sudah tidak ada, padahal padi sangat butuh air,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Dispertan Pemkab Gresik, Syamsul Ma’arif.
Baca Juga: Sejumlah Desa di Gresik Mulai Kekeringan, BPBD Persiapkan Suplai Air Bersih ke Daerah Terdampak
Dikatakan, pada musim tanam keempat ini para petani memilih untuk tidak mengolah lahannya. Seperti di Gresik selatan saat kemarau ditanami tanaman kangkung. Kemudian di wilayah Sidayu malah musim tanam padi hingga 4 kali. “Yang terdampak itu area tambak,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, sampai saat ini laporan yang masuk dari petani terkait dampak kekeringan baru satu desa. Kemungkinan apabila hujan tidak kunjung datang, dampak kekeringan untuk lahan pertanian akan meluas. “Ini selesai musim tanam ketiga, kemungkinan setelah ini petani tidak tanam lagi,” kata dia.
Sementara itu, Sekretaris Dispertan Gresik Suryo Wibowo mengatakan sejumlah petani memanfaatkan air tanah. Seperti di Benjeng, sejumlah petani masih merawat sayuran seperti sawi, kangkung, dan bayam. “Sampai sekarang masih ada tanaman dengan memanfaatkan sumber air tanah,” kata dia.
Bahkan lahan di Benjeng masih produktif saat kemarau panjang menerjang. Menurutnya, selama sumber air tanah masih keluar, lahan masih produktif untuk tanaman sayuran. “Kalau mengandalkan air sungai jelas tidak mungkin,” pungkasnya. (rof)
Editor : Hany Akasah