Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

DLH Andalkan Mesin Canggih RDF, Warga Kini Bisa Pilah Sampah dari Dapur

Fajar Yuliyanto • Selasa, 27 Januari 2026 | 11:33 WIB
MESIN : DLH Gresik mesin RDF untuk pengelolaan sampah.
MESIN : DLH Gresik mesin RDF untuk pengelolaan sampah.

RADAR GRESIK – Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngipik yang kian mengkhawatirkan akibat tumpukan sampah yang membludak membuat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gresik memutar otak.

Sebagai solusi jitu, DLH kini mengoptimalkan penggunaan mesin Refuse Derived Fuel (RDF) guna menyulap tumpukan sampah menjadi energi alternatif yang bernilai guna.

Kepala DLH Gresik, Sri Subaidah, menegaskan bahwa langkah ini bukan hal baru, melainkan penguatan sistem yang sudah dibangun untuk memperpanjang napas TPA dari ancaman kelebihan muatan (overload).

“Untuk mesin pencacah itu sudah beroperasi mulai tahun 2023,” kata Sri Subaidah singkat namun tegas mengenai kesiapan infrastruktur pengolahan sampah di Gresik.

Secara teknis, Kepala UPT TPA DLH Gresik, Purwaningtyas Noor Mariansyah, menjelaskan bahwa mesin RDF tersebut memiliki spesialisasi untuk menghancurkan sampah anorganik, terutama jenis plastik film yang sulit terurai secara alami. Prosesnya pun melibatkan pemilahan ketat sebelum akhirnya masuk ke mesin penghancur.

“Mesin pencacah ini tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi satu rangkaian dalam mesin RDF. Saat ini unitnya berada di TPST Ngipik dan TPST Belahanrejo. Sampah anorganik kemudian diarahkan ke mesin crusher untuk dicacah sesuai ukuran yang dikehendaki,” ucap Wawan, sapaan akrabnya, pada Senin (26/1).

Meski teknologi canggih sudah dikerahkan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada apa yang dilakukan masyarakat di dapur mereka masing-masing. Wawan mengungkapkan bahwa hasil olahan sampah plastik ini memiliki potensi besar sebagai pengganti bahan bakar fosil.

“Hasil cacahan sampah anorganik rata-rata mencapai sekitar 19 persen dari total input sampah yang masuk. Hasil ini selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan baku RDF yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif,” ujarnya.

Namun, kendala utama di lapangan adalah masih banyaknya sampah yang tercampur antara organik dan anorganik.

Wawan menekankan bahwa jika masyarakat mau bergerak memilah sampah dari rumah, beban TPA Ngipik akan berkurang drastis, mengingat sebagian besar sampah yang masuk adalah jenis organik.

“Tidak semua sampah harus dibuang ke TPA, karena pengolahan bisa dimulai dari rumah tangga. Sedangkan untuk sampah organik, yang jumlahnya mencapai sekitar 60 persen sendiri. Dengan adanya pemilahan sejak dini, diharapkan volume sampah yang masuk ke TPA dapat berkurang secara signifikan, sekaligus mendorong pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di Kabupaten Gresik,” pungkasnya. (jar/han) 

Editor : Hany Akasah
#dlh #rumah tangga #gresik #RDF #Sampah