RADAR GRESIK – Upaya menekan angka pengangguran dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kabupaten Gresik terus digenjot.
Sebanyak 40 peserta yang berasal dari desa-desa sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE serta perwakilan sekolah kejuruan mengikuti pelatihan teknis perawatan AC dan menjahit guna mempersiapkan diri terjun ke dunia kerja maupun membuka usaha mandiri.
Para peserta berasal dari Desa Manyarejo, Manyar Sidomukti, Manyar Sidorukun, Karangrejo, Banyuwangi, Bedanten, Tajungwidoro, Kramat, hingga Leran. Selain warga desa, siswa dari SMK/SMA Yasmu dan SMK As Sa’adah juga dilibatkan sebagai bentuk persiapan generasi muda memasuki dunia industri.
Kepala Disnaker Gresik, Zainul Arifin, memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi ini. Ia menegaskan bahwa ijazah formal saja kini tidak cukup untuk bersaing di dunia industri. Sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang didapatkan peserta menjadi kunci utama.
“Alhamdulillah, kegiatan ini akhirnya bisa terlaksana. Sekarang ini industri lebih mengakui sertifikasi kompetensi. Ijazah saja tidak cukup, sehingga sertifikat keahlian menjadi sangat penting untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja,” kata Zainul, Kamis (22/1).
Zainul juga mengungkapkan kesuksesan program serupa sebelumnya, di mana 90 persen alumni pelatihan tahun 2024 telah terserap di dunia kerja. Pihaknya berkomitmen tidak akan melepas peserta begitu saja setelah pelatihan usai.
"Disnaker tetap melakukan pendampingan agar mereka benar-benar memiliki arah yang jelas, baik terserap kerja maupun mampu mandiri membuka usaha," imbuhnya.
Senada dengan itu, Kepala Balai Diklat Industri Surabaya, Wido Eko Wardiono, menekankan bahwa program ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan penciptaan lapangan kerja baru. Dukungan nyata juga diberikan berupa bantuan peralatan servis AC serta mesin jahit bagi para peserta.
“Dengan bantuan peralatan ini, peserta tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga sarana untuk langsung mempraktikkan ilmunya. Ini langkah konkret mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar kawasan industri,” ujar Wido.
Direktur HR & Logistik PT BKMS (pengelola KEK JIIPE), Agung P. Guritno, menambahkan bahwa pelatihan ini berorientasi pada penguatan kapasitas individu agar masyarakat ring satu tidak hanya menjadi penonton di tengah masifnya industrialisasi.
"Kami berharap pelatihan ini membentuk SDM yang adaptif dan kompeten, sehingga manfaat keberadaan industri dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat Gresik," pungkas Agung. (jar/han)
Editor : Hany Akasah