RADAR GRESIK - Gus Miftah merupakan seorang pendakwah sekaligus Utusan Khusus Presiden untuk Kerukunan Umat Beragama dan Pengembangan Lembaga Keagamaan di era Prabowo yang dikenal dengan ceramahnya yang santai dan penuh humor.
Gus Miftah menjadi sorotan publik setelah video ceramahnya tiba-tiba muncul di masyarakat media sosial menyebar dengan cepat.
Dalam video tersebut, Gus Miftah tampak bercanda soal penjual es teh di tengah bacaannya Lelucon tersebut awalnya menuai gelak tawa jemaah yang hadir, namun reaksi masyarakat beragam setelah video tersebut dibagikan secara luas.
Komentar Gus Miftah dinilai sebagian kalangan kurang tepat, apalagi dibuat dalam konteks bacaan yang bertujuan menonjolkan pesan moral.
Mereka menilai candaan seperti itu dapat menyinggung pihak tertentu dan melemahkan hakikat dakwah. Namun ada pula yang membela Gus Miftah dengan mengatakan bahwa gaya dakwahnya yang santai dan jenaka memiliki daya tarik tersendiri, sehingga memudahkan pesan-pesan keagamaan diterima oleh berbagai kalangan.
Perdebatan ini juga muncul di berbagai platform media sosial, yang mencerminkan perbedaan pendapat masyarakat tentang bagaimana para pengkhotbah harus menyampaikan pidatonya.
Meskipun banyak orang mempertanyakan batas antara humor dan rasa hormat dalam berceramah. Ada pula yang melihat masalah ini sebagai pengingat akan pentingnya menjaga lisan dengan baik tanpa adanya merendahkan seseorang.
Mukhlis, seorang warga Gresik , mengungkapkan keresahannya terkait video yang saat ini tengah viral dan menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.
Dalam pandangannya, video tersebut telah menjadi konsumsi publik dan mempengaruhi persepsi banyak orang. Ia menyarankan agar Gus Miftah, yang juga merupakan bagian dari Nahdlatul Ulama (NU), dapat melakukan introspeksi diri. Mukhlis menekankan pentingnya menjaga citra dan nama baik NU, sebuah organisasi yang selama ini dikenal memiliki pengaruh besar di Indonesia.
"Yang jelas itu sudah jadi konsumsi publik, harapan saya Gus Miftah introspeksi diri saja lah. Mengingat posisinya yang sudah menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama, minimal jangan mencoreng nama Nahdlatul Ulama itu sendiri," ujar Mukhlis, menambahkan bahwa penting untuk menjaga keharmonisan dan citra organisasi yang telah lama dihormati tersebut.
Ia berharap agar kejadian ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam bertindak, mengingat dampaknya yang bisa luas terhadap masyarakat dan organisasi.
Luthfi, seorang penjual cilok asal Ciamis yang merantau, turut memberikan pendapatnya terkait video yang tengah viral tersebut. Menurutnya, penilaian terhadap video itu sangat bergantung pada sudut pandang masing-masing individu.
"Tapi tergantung penilaian orang masing-masing sih menurut aku, karena bisa jadi Gus Miftah memang konsepnya bercanda," ujar Luthfi.
Namun, Luthfi juga menambahkan bahwa meskipun ada kemungkinan bahwa Gus Miftah bermaksud untuk bercanda, ia tetap merasa bahwa jenis candaan seperti itu tidak pantas.
"Akan tetapi bercanda seperti itu juga gak boleh menurut saya, sama saja itu mencoreng nama," tambahnya, menegaskan bahwa hal semacam itu tetap bisa berdampak buruk terhadap reputasi seseorang atau organisasi yang diwakilinya.
Ibu Mushliha, seorang penjual es berusia 53 tahun, turut memberikan komentarnya terkait video viral yang tengah menjadi perbincangan di masyarakat.
Dalam pendapatnya, ia merasa bahwa apa yang terjadi dalam video tersebut menggambarkan kondisi yang mirip dengan pengalamannya mencari nafkah untuk keluarga.
"Bapak itu di posisi seperti saya dulu, cari nafkah untuk anak, untuk sekolah, dan untuk kuliah. Sedangkan kita dari rumah niat cari nafkah, tapi kondisi di sana kayak gitu. Nelangsa, saya bertahun-tahun jualan kayak gitu, tapi ya sama, ada saja yang seperti itu, tapi gak separah itu," ujar Ibu Mushliha, mengungkapkan kesedihannya atas kejadian yang terjadi dalam video tersebut.
Mushliha juga memberikan pesan kepada para ulama, agar dalam bercanda tetap memperhatikan tata krama. "Saya mohon para ulama, bercanda ya bercanda, tapi ada tata caranya. Boleh bercanda di atas panggung, tapi kan ada tata caranya. Ngaji kan untuk panutan, kita cari nafkah kan untuk orang di rumah, kok malah digituin," tambahnya.
Mushliha menegaskan meskipun bercanda diperbolehkan, tetap harus ada batasan dan rasa hormat terhadap orang lain, terutama bagi mereka yang mencari nafkah dengan cara yang keras.
Dari kejadian video candaan Gus miftah ke penjual es teh, kini kembali menyoroti pentingnya menyeimbangkan humor dan etika saat berdakwah.
Beragamnya reaksi masyarakat menunjukkan bahwa pesan-pesan yang disampaikan oleh tokoh masyarakat, khususnya para ulama, mempunyai dampak yang luas dan perlu diperhatikan.
Banyak pihak yang berharap agar Gus Miftah dan para khatib lainnya tetap memperhatikan kehalusan ceramahnya tanpa menghilangkan gaya dakwah yang penuh kehangatan dan humor.
Dengan peristiwa ini mengingatkan kita akan pentingnya terus menghormati dan menghargai sesama, terutama mereka yang sedang berjuang mencari nafkah. (ilm/nov/han)
Editor : Hany Akasah