RADAR GRESIK – Sosok muda di parlemen, Anggota Komisi VII DPR RI, Nila Yani Hardiyanti, S.I.Kom., M.IP., tampil sebagai representasi Kartini masa kini yang tak hanya hadir di ruang publik, tetapi juga aktif memperjuangkan penguatan ekonomi masyarakat dari Senayan.
Perempuan kelahiran Gresik, 7 Maret 1998 itu menegaskan, makna perjuangan perempuan hari ini harus melampaui simbol kehadiran semata. Menurutnya, keterwakilan perempuan harus diwujudkan secara substantif, berdaya, dan berpihak pada keadilan sosial.
“Perempuan tidak cukup hanya hadir. Harus mampu menjadi pengambil keputusan yang membawa manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar legislator dari Dapil Jawa Timur X tersebut.
Selain aktif di parlemen, Nila juga dikenal sebagai Direktur Keuangan Gresik United serta terlibat dalam berbagai organisasi sosial dan olahraga. Pengalaman tersebut membentuk perspektifnya dalam melihat persoalan masyarakat, terutama terkait ekonomi kerakyatan.
Kawal Industri dan Lingkungan
Dalam tugas legislasi dan pengawasan, Nila Yani menyoroti sektor industri, salah satunya industri air minum dalam kemasan (AMDK). Ia menilai isu AMDK tidak sekadar soal kualitas produk, tetapi juga menyangkut keadilan kebijakan, keberlanjutan lingkungan, dan keberpihakan terhadap pelaku usaha kecil.
Menurutnya, pengelolaan sumber air yang tidak berkelanjutan serta penggunaan plastik yang masif berpotensi menimbulkan krisis lingkungan dan kesehatan.
“Negara tidak boleh hanya berpihak pada industri besar. Pelaku usaha kecil seperti BUMDes dan koperasi desa juga harus mendapat perlindungan dan ruang berkembang,” tegasnya dalam rapat Panja bersama Kementerian Perindustrian di Kompleks Parlemen.
Ia juga menekankan pentingnya tanggung jawab sosial perusahaan, terutama dalam mencegah eksploitasi air tanah yang dapat memicu krisis air bersih di sejumlah daerah.
Dorong Ketahanan Industri Pangan
Tak hanya itu, Nila juga aktif mendorong penguatan industri pangan nasional. Saat kunjungan kerja ke PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk di Gresik, ia mengapresiasi kontribusi perusahaan dalam membuka lapangan kerja dan menjaga stabilitas industri.
Menurutnya, sektor pangan memiliki peran strategis dalam menopang ekonomi nasional, terutama di tengah tantangan global.
“Industri pangan harus terus diperkuat agar mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus menyerap tenaga kerja,” ujarnya.
Ia menambahkan, peningkatan produktivitas industri harus sejalan dengan perlindungan tenaga kerja guna mencegah gelombang PHK di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Teknologi untuk Nelayan Kecil
Di bidang teknologi, Nila Yani menegaskan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) harus berpihak pada rakyat kecil, khususnya nelayan.
Dalam kunjungan kerja BKSAP DPR RI ke IPB University, ia menyoroti pentingnya pemanfaatan AI untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, bukan justru memperlebar kesenjangan.
“Teknologi adalah alat perjuangan. AI harus membantu nelayan lebih aman, efisien, dan sejahtera,” tegasnya.
Ia menekankan, inovasi seperti e-logbook dan teknologi perikanan harus benar-benar menjawab kebutuhan riil di lapangan, terutama bagi nelayan di wilayah pesisir Jawa Timur.
Perkuat UMKM dan Fesyen Lokal
Komitmen terhadap ekonomi kerakyatan juga ditunjukkan melalui dukungan pada pelaku UMKM, khususnya subsektor fesyen. Nila mengajak pelaku usaha lokal untuk membangun identitas produk dan membendung maraknya pakaian bekas impor (thrifting).
Ia menilai Gresik memiliki potensi besar melalui produk seperti Tenun Wedani dan Batik Naga Giri yang mampu bersaing di pasar nasional maupun global.
“Kreativitas lokal harus terus digaungkan agar masyarakat bangga menggunakan produk daerah sendiri,” ungkapnya saat membuka workshop branding fesyen di Gresik.
Kartini Muda yang Konsisten Berjuang
Bagi Nila Yani, semangat Kartini adalah keberanian membuka jalan dan memperjuangkan kesetaraan. Ia menilai perempuan di posisi strategis harus menjadi suara bagi masyarakat, terutama dalam isu pendidikan, perlindungan pekerja perempuan, dan pemberdayaan ekonomi keluarga.
Ia juga mengakui masih adanya tantangan seperti stereotip gender dan ketimpangan kesempatan yang harus dihadapi perempuan saat ini.
Sebagai wakil rakyat, Nila menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kebijakan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tak hanya di parlemen, kepeduliannya terhadap generasi muda juga diwujudkan melalui penyelenggaraan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA di Kabupaten Gresik sebagai wadah pengembangan potensi pelajar.
Momentum Hari Kartini pun diharapkan menjadi pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Dengan dukungan semua pihak, perempuan Indonesia diyakini mampu menjadi motor penggerak ekonomi dan pembangunan bangsa.
“Perempuan harus menjadi subjek pembangunan dan penggerak perubahan,” tegasnya. (*)
Editor : Hany Akasah