RADAR GRESIK - Belum ada dalam sejarah nama anak muda asli Kabupaten Gresik duduk menjadi legislator di Senayan. Maka tidak salah jika selama ini keterwakilan suara kaum muda asal Kabupaten Gresik dikancah nasional nyaris tidak ada.
Hal inilah yang melatarbelakangi Thoriq Majiddanor untuk mengabdikan diri berjuang menjadi Anggota DPR-RI dalam pemilu 2024. "Anggota DPR RI berusia muda tidak ada dari Kabupaten Gresik. Rata-rata mereka berasal dari Lamongan. Kalaupun ada anggota DPR RI muda dari dapil Jatim 10 itu bukan asli putra daerah melainkan dari ibu Jakarta," tegas Jiddan.
Berangkat dari tekad itulah, putra kedua pasangan Sambari Halim Radianto dan Maria Ulfah itu memutuskan untuk terjun ke dunia politik yang selama ini sebenarnya tidak pernah dia bayangkan.
Sejak pertengahan tahun lalu Jiddan yang hobi keluar masuk kampung melihat ada sejumlah persoalan mendasar yang hingga kini menjadi pekerjaan rumah (PR) bersama mulai dari sulitnya mencari pekerjaan bagi masyarakat lokal ditengah era terbuka, terbatasnya fasilitas kesehatan disejumlah Kecamatan di Gresik dan Lamongan, fasilitas dan sarana pendidikan yang kurang memadai hingga problematika tingginya biaya hidup.
"Yang menikmati hasil pembangunan Kabupaten Gresik selama periode 2010 hingga sekarang mayoritas warga di luar kota. Mereka berbondong-bondong karena upah bekerja di Gresik tinggi. Sementara milenial lokal kalah dalam berkompetisi," keluh Jiddan.
Pria 29 tahun yang kini sukses merintis usaha di bidang properti itu menegaskan, ada sejumlah program bantuan dari pemerintah yang bisa dimanfaatkan para millenial. Namun realitas yang terjadi dilapangan, bantuan yang seharusnya dibagi secara merata kepada masyarakat justru menjadi ajang bancakan kelompok tertentu.
"Misalnya ada bantuan berupa modal usaha untuk kaum muda, kita bisa cek profile penerima bantuan itu siapa. Apakah sebelumnya pernah ada korelasi antara pemberi bantuan dengan penerima. Ujung-ujungnya bantuan yang telah diberikan ini tidak optimal karena usahanya hanya bersifat temporer," terang Jiddan.
Dirinya belajar dari kepemimpinan ayah dalam membangun Kabupaten Gresik 10 tahun lalu. “Pembangunan yang masif, investor yang berbondong-bondong datang. Pendapatan daerah yang surplus hingga Gresik bisa maju dan berkembang sehingga saat ini bisa dinikmati masyarakat," pungkasnya. (*/fir/han)
Editor : Hany Akasah