RADAR GRESIK - Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) seringkali menghadapi stigma negatif di masyarakat. Mereka sering dianggap sebagai beban, tidak mampu, dan selalu bergantung pada orang lain. Pandangan ini menjadi tantangan besar bagi Sekolah Luar Biasa (SLB) yang memiliki tugas untuk mendidik ABK dengan berbagai karakteristik. Pertanyaan "Bisa apa dia?" yang sering dilontarkan mencerminkan kurangnya pemahaman dan apresiasi terhadap potensi yang dimiliki oleh ABK.
Untuk mengatasi stigma negatif dan memaksimalkan potensi ABK, diperlukan pendekatan yang berbeda. Pengembangan Sekolah Berbasis Aset (PSBA) dengan paradigma inkuiri apresiatif menawarkan solusi yang efektif.
Pendekatan ini berfokus pada kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh setiap individu, termasuk ABK. Dengan mengidentifikasi hal-hal positif dan mendukung perkembangannya, PSBA sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menekankan pentingnya menggali potensi setiap anak. Melalui pendekatan ini, diharapkan ABK dapat mencapai keberhasilan dan menjadi anggota masyarakat yang berdaya.
SLB Kemala Bhayangkari 2 Gresik, yang terletak di jantung kota industri Gresik, telah menerapkan strategi inovatif untuk memaksimalkan potensi siswa berkebutuhan khusus (ABK).
Sekolah ini menyadari pentingnya memberikan pendidikan yang berkualitas dan berpusat pada siswa untuk membantu mereka mencapai kemandirian. Salah satu strategi yang diterapkan adalah metode BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana). Metode ini dirancang untuk menggali kekuatan dan minat siswa, serta mendorong mereka untuk memiliki mimpi dan tujuan hidup yang jelas.
Metode BAGJA terdiri dari lima tahap utama. Pertama, dengan mengajukan pertanyaan terbuka, siswa diajak untuk merefleksikan diri dan mengidentifikasi kekuatan serta minat mereka.
Kedua, siswa diajak untuk mengingat pengalaman positif di masa lalu dan belajar dari keberhasilan mereka. Ketiga, siswa didorong untuk memikirkan mimpi dan cita-cita yang ingin mereka capai. Keempat, sekolah bersama siswa menyusun rencana yang konkret untuk mencapai mimpi tersebut. Terakhir, rencana tersebut dieksekusi dan hasilnya menunjukkan peningkatan keberdayaan siswa.
Meskipun metode BAGJA telah terbukti efektif, SLB Kemala Bhayangkari 2 Gresik juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti diskriminasi terhadap ABK di dunia kerja dan kurangnya dukungan kebijakan.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, sekolah melakukan berbagai upaya, seperti memperkuat kerjasama dengan berbagai pihak, meningkatkan kompetensi guru, dan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai. Sekolah juga mendorong pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan yang lebih mendukung inklusi bagi ABK.
SLB Kemala Bhayangkari 2 Gresik telah mengadopsi pendekatan Pengembangan Sekolah Berbasis Aset (PSBA) untuk memaksimalkan potensi siswa berkebutuhan khusus (ABK). PSBA berfokus pada penguatan aset yang dimiliki sekolah, seperti modal manusia, sosial, fisik, dan finansial, untuk mencapai tujuan pendidikan yang lebih efektif.
Menurut Green dan Haines (2016), terdapat tujuh modal utama dalam PSBA: modal manusia (guru, siswa, staf), modal sosial (jaringan, hubungan), modal politik (dukungan pemerintah), modal agama dan budaya, modal fisik (bangunan, peralatan), modal lingkungan, dan modal finansial. Masing-masing modal ini saling terkait dan berkontribusi pada keberhasilan sekolah.
SLB Kemala Bhayangkari 2 Gresik menerapkan delapan langkah dalam melaksanakan PSBA:
- Penguatan kebijakan dan Regulasi; sekolah mendorong pemerintah daerah dalam melahirkan petaraturan daerah yg berpihak kepada ABK di dunia kerja.
- Integrasi Program Transisi: Program transisi pasca-sekolah diintegrasikan ke dalam kurikulum untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia kerja.
- Penguatan Pendidikan Keterampilan dan Vokasional: Sekolah memperkuat program keterampilan dan vokasional yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
- Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Kewirausahaan: Siswa diberikan pelatihan kewirausahaan untuk mengembangkan jiwa mandiri.
- Penguatan SDM: Kompetensi guru ditingkatkan melalui berbagai pelatihan dan sertifikasi
- Dukungan Sarana dan Prasarana: Sekolah menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung program-program keterampilan
- Pembentukan Shelter Workshop: Didirikan tempat khusus untuk siswa berlatih dan memproduksi karya
- Kerjasama dengan Instansi Terkait: Sekolah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung program-program sekolah.
Dalam menerapkan PSBA, sekolah menghadapi tantangan seperti belum adanya kepercayaan dari masyarakat, perusahaan dan instansi terhadap kemampuan yg dimiliki ABK di dunia kerja. Namun, sekolah tetap berupaya untuk mengatasi tantangan tersebut.
Melalui penerapan PSBA, SLB Kemala Bhayangkari 2 Gresik telah berhasil meningkatkan keberdayaan siswa. Sekolah belajar bahwa dengan fokus pada potensi siswa dan memberikan dukungan yang tepat, ABK dapat mencapai kesuksesan.
Penerapan PSBA di SLB Kemala Bhayangkari 2 Gresik memberikan inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk menerapkan pendekatan yang sama. PSBA menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, pendidikan inklusif dapat berhasil dan memberikan manfaat bagi semua siswa.
Untuk mendukung keberhasilan PSBA, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengukur dampak jangka panjang dari penerapan PSBA. (*)
Editor : Hany Akasah