RADAR GRESIK - Pemikiran mendasar dari Raden Ajeng Kartini mengenai esensi akses dan kesempatan yang setara bagi kaum perempuan tetap memiliki resonansi yang kuat dan relevan dalam konteks era modern ini, tak terkecuali bagi perempuan yang berdomisili di Kabupaten Gresik.
Kendatipun lanskap tantangan zaman telah mengalami pergeseran yang signifikan, inti dari perjuangan Kartini untuk mencapai pemberdayaan perempuan, memberikan ruang yang kondusif untuk pertumbuhan, serta mendorong kontribusi aktif dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat masih terus menginspirasi dan menjadi landasan penting.
Dalam konteks Kabupaten Gresik, perkembangan partisipasi perempuan di berbagai sektor kehidupan, mulai dari ranah ekonomi, pendidikan, sosial, hingga politik, merupakan sebuah perkembangan yang menggembirakan dan patut untuk diapresiasi.
Namun demikian, penting untuk menyadari bahwa upaya yang berkelanjutan dan terstruktur dalam membuka akses yang lebih luas terhadap program pelatihan, pendampingan usaha bagi perempuan, serta memberikan ruang partisipasi yang lebih signifikan dalam proses pengambilan keputusan di berbagai tingkatan masih merupakan sebuah imperatif yang krusial.
Hal ini bukan semata-mata mengenai pencapaian kesetaraan dalam kedudukan formal antara laki-laki dan perempuan, melainkan lebih jauh dari itu, yakni tentang menciptakan peluang yang setara dan adil bagi seluruh individu, tanpa memandang perbedaan gender, sehingga setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan dan mencapai potensi maksimal yang dimilikinya.
Nilai luhur dari perjuangan Kartini yang menyoroti kesadaran akan urgensi pendidikan dan pengetahuan, khususnya bagi kaum perempuan, tetap menjadi sebuah prinsip yang teramat krusial untuk terus diimplementasikan dan diinternalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pada konteks kekinian.
Lebih dari sekadar pencapaian akademis semata, esensi dari pendidikan yang diperjuangkan Kartini adalah pemberdayaan perempuan agar memiliki pemahaman yang mendalam mengenai hak-hak, tanggung jawab, serta potensi diri mereka secara utuh.
Keberanian Kartini dalam menyuarakan pendapatnya secara lantang dan mengambil peran aktif dalam berbagai ranah kehidupan juga tetap relevan dan menjadi teladan bagi perempuan masa kini. Keterlibatan perempuan secara signifikan dalam berbagai aspek kehidupan sosial dan dalam proses perumusan kebijakan publik menjadi sebuah keniscayaan agar suara mereka didengar dan mereka diberikan ruang yang setara untuk berkontribusi secara konstruktif dalam membangun bangsa, selaras dengan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan saling menghargai yang kita junjung tinggi sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sebagai seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Gresik, saya memiliki pandangan bahwa telah terjadi kemajuan yang signifikan dalam peran dan posisi perempuan dibandingkan dengan masa perjuangan Kartini. Saat ini, perempuan di Kabupaten Gresik telah menunjukkan tingkat partisipasi yang jauh lebih luas dan mendalam di berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkup keluarga, hingga ranah publik dan sektor ekonomi yang beragam.
Meskipun demikian, adalah sebuah keharusan untuk mengakui bahwa berbagai tantangan masih membentang di hadapan kita, terutama yang berkaitan dengan aksesibilitas ekonomi dan pendidikan yang belum merata secara optimal bagi seluruh lapisan perempuan di Kabupaten Gresik. Oleh karena itu, meskipun perubahan positif telah terjadi, proses menuju terwujudnya kesetaraan gender yang sesungguhnya memerlukan upaya yang berkelanjutan, terkoordinasi, dan melibatkan kolaborasi dari seluruh elemen masyarakat. Peran strategis DPRD terletak pada pengawalan kebijakan dan alokasi anggaran daerah yang responsif terhadap kebutuhan dan aspirasi perempuan, serta membangun sinergi yang kuat dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan seluruh elemen masyarakat luas.
Dalam konteks implementasi cita-cita Kartini di Kabupaten Gresik, meskipun telah dijalankan beberapa program yang menyasar pemberdayaan perempuan, seperti berbagai pelatihan keterampilan dan dukungan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dikelola oleh perempuan, menginternalisasi semangat dan visi Kartini memerlukan pendekatan yang lebih holistik, komprehensif, dan berkelanjutan. Alih-alih hanya terpaku pada program-program berskala besar, menurut hemat saya, semangat Kartini yang meliputi pendidikan, kesetaraan gender, dan kesejahteraan perempuan akan lebih hidup dan teraktualisasi melalui kolaborasi lintas sektor yang lebih intensif dan inisiatif kebijakan yang secara konsisten mendorong terciptanya ruang yang kondusif bagi perempuan untuk berkembang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman kini. (*)
Editor : Hany Akasah