Ayah Matul hanya bekerja sebagai tukang kebun dan tukang becak. Pekerjaan tersebut tetap ditekuni hingga saat ini. Sedangkan, ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang berjuang membantu menopang perekonomian keluarga dengan membuka stan berjualan kopi ketika ada pameran kegiatan.
Kendati pendapatannya tidak tetap, tetapi Ismatul tetap bangga dengan kedua orang tuanya. "Bapak kalau pagi bersih-bersih di taman Wahana Ekpresi Poesponegoro (WEP). Setelah itu berkeliling di sekitar Pasar Baru Gresik (PBG). Kalau ibu tidak kerja, tapi kadang-kadang membantu jualan," ujar Ismatul.
Belajar dari kedua orang tuanya, Ismatul tak berhenti berjuang. Ia berhasil ikut Kejurprov Jatim di Situbondo pada tahun 2015 silam, meski hasilnya gagal.
"Pertama kali ikut lomba di Situbondo itu. Saya tidak mendapatkan medali apa-apa. Baru dapat juara setahun kemudian saat ikut Piala Walikota Surabaya. Kalau tidaksalah tahun 2016. Dapat piala, uang pembinaan, sama piagam," jelasnya.
Uang pembinaan yang diterima dari prestasinya, ditabung dan sebagian untuk membantu meringankan beban kedua orang tuanya. Selain itu, uang tersebut juga digunakan untuk membiayai biaya pendidikannya secara mandiri.
"Pastinya ada sebagian uang yang saya sisihkan untuk ditabung. Kalau butuh buat sekolah, ya saya gunakan uang itu sebagai tambahan. Termasuk saya berikan kepada kedua orang tua, " pungkasnya.(yud/han)
Editor : Hany Akasah