RADAR GRESIK – Kreativitas tak terduga datang dari kelompok Kader PKK (Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga) di Kabupaten Gresik. Mereka berhasil menyulap sisa-sisa kain perca dari usaha konveksi menjadi produk yang dikenal sebagai Batik Leles, yang kini mulai diminati di pasaran.
Ketua UMKM Batik Leles, Aminatus Solicha, menceritakan bahwa ide pembuatan "Batik Leles" ini bermula dari melimpahnya sampah kain perca yang terbuang dari para pengusaha konveksi di sekitar Kelurahan Kauman, Kecamatan Gresik.
“Sisa-sisa batik kita sambung-sambung. Nama dari ‘leles’ sendiri itu kan sisa kain perca dari para penjahit,” kata Solicha.
Di Kelurahan Kauman memang banyak terdapat usaha konveksi jahit-menjahit pakaian. Limbah kain perca dari konveksi tersebut ditampung di Bank Sampah yang dikelola oleh kader PKK.
“Awalnya berpikir, mau digunakan untuk apa limbah konveksi sebanyak itu, dengan hasil yang memiliki nilai jual. Akhirnya memutar otak untuk pembuatan tas, taplak meja, jampel, yang produk kecil-kecil,” ujarnya.
Dengan bantuan mesin jahit, ibu-ibu kader PKK mulai membuat aneka produk dari kain perca. Hasil kerajinan ini langsung menarik perhatian dan dilirik oleh sejumlah pejabat Kecamatan. Puncaknya, pakaian batik yang mereka namakan Batik Leles ini berhasil meraih juara pertama dalam sebuah lomba karya.
“Alhamdulillah awal yang bagus mendapat apresiasi positif dari Kecamatan,” imbuh Solicha.
Dalam sehari, kelompok ini mampu membuat satu potong pakaian batik atau hingga 12 buah untuk produk berukuran kecil seperti tas. Harga jual Batik Leles ini bervariasi; produk kecil seperti jampel dan taplak meja dibanderol mulai dari Rp5 ribu, sementara harga pakaian batik berkisar antara Rp80 ribu hingga Rp125 ribu.
Solicha berharap kerajinan Batik Leles ini dapat terus berkembang dengan dukungan berbagai pihak, sehingga dapat menambah pundi-pundi penghasilan rumah tangga warga.
"Sekarang kita kendalanya bahan dasar kain perca yang kekurangan,” pungkasnya, menunjukkan tingginya permintaan pasar. (jar/han)
Editor : Hany Akasah