RADAR GRESIK -Hari Raya Ketupat, atau yang dikenal dengan sebutan "Lebaran Ketupat". Ini merupakan tradisi yang telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Jawa.
Biasanya masyarakat membuat ketupat dan disajikan untuk dimakan. Sejumlah tempat juga menggelar kegiatan doa bersama di masjid, setelah itu makan ketupat bareng.
Awal mula, tradisi ini bentuk syukur setelah menjalankan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Ini juga sebagai hari raya setelah puasa enam hari Syawal yang memilikinya keutamaan luar biasa.
Sejarahwan Gresik M Fattah mengatakan, kupatan ini sebagai sarana dakwah untuk mengenalkan ajaran Islam tentang bersyukur kepada Allah SWT. “Ketupat, atau "kupat" dalam bahasa Jawa, merupakan akronim dari ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan,” jelasnya.
Hal ini melambangkan permintaan maaf dan saling memaafkan antar sesama.
Selain itu, anyaman janur yang membungkus ketupat melambangkan kompleksitas kehidupan manusia.
Sementara warna putih nasi di dalamnya mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah saling memaafkan. Masyarakat merayakannya dengan menganyam ketupat bersama.
Saling bertukar hidangan, dan mengadakan doa bersama sebagai ungkapan syukur atas kemampuan menjalankan puasa Syawal.
Pramono salah satu warga Desa Banjarsari, Kecamatan Manyar mengatakan tradisi lebaran Ketupat tidak hanya sekadar perayaan budaya, tetapi juga memiliki nilai religius yang mendalam. " Momen kupatan untuk ajang bersilaturahmi dengan keluarga dan tetangga agar guyup rukun," ujarnya. (yud/han)
Editor : Hany Akasah