Ekonomi & Bisnis Features Gaya Hidup Hukum dan Kriminal Jatim Kebo Giras Kesehatan Kota Gresik Moncer Seru Olahraga Pendidikan Peristiwa Person of The Year Pojok Perkoro

Kesulitan Air dan Waduk Mengering, Petani Balongpanggang Gresik Beralih Tanam Kangkung

Yudhi Dwi Anggoro • Selasa, 30 Juli 2024 | 16:25 WIB
PERALIHAN: Terus mengering petani di Balongpanggang pilih tanam kangkung yang tidak membutuhkan air banyak
PERALIHAN: Terus mengering petani di Balongpanggang pilih tanam kangkung yang tidak membutuhkan air banyak

RADAR GRESIK - Musim kemarau datang lagi. Hal ini menjadi momok menakutkan bagi petani di Indonesia.

Fakta demikian juga terjadi di Gresik tepatnya Desa Tanah Landean Balongpanggang. Ratusan petani di wilayah tersebut terancam gagal panen serta merugi hingga 40% persen. Air di waduk dengan kedalaman 3 meter yang selama ini menjadi tumpuan pun kering.

Para petani hanya bisa pasrah dan menggantungkan dari air dari sumur bor yang debit airnya semakin kecil.

Sumali salah satu petani mengatakan musim kemarau yang diprediksi lebih panjang membuat petani pasrah. Mereka dibayangi gagal panen dan juga kerugian karena padi yang gagal tumbuh.

"Modalnya itu minimal Rp 8 juta per hektare, kalau di musim kemarau ya pasrah saja," ujar Sumali, Minggu (28/7).

Sumali yang juga perangkat Desa Tanah Landean ini menjelaskan para petani sangat menggantungkan air dari Waduk Gogor, Balongpanggang, Gresik.

Karena semakin dangkal, waduk yang semestinya dijadikan tempat penampungan air tidak berfungsi.

"Sebenarnya butuh normalisasi waduk Gogor, kalau itu sudah dilakukan maka petani disini akan panen 1 tahun 3 kali," jelas Sumali.

Dia menyatakan sebenarnya produktivitas padi di Tanah Landean cukup bagus. Jika musim penghujan, petani bisa panen 8 ton per hektare. Kalau musim kemarau, diprediksi hanya 4 sampai 5 ton per hektare.

"Bayangkan di desa ini lahan tani ada 100 hektare. Produktivitas tinggi, karena tidak ada air selisihnya 2 sampai 3 ton per hektare," ucap Sumali.

Untuk mengantisipasi kerugian terlalu besar, Sumali mengaku beberapa petani beralih menanam sayur kangkung karena tak butuh banyak air.

"Jika hasilnya dan harganya bagus, maka bisa meminimalisir kerugian petani," tutur Sumali.

Sementara itu, Kepala Desa Tanah Landean Feri Hermawan menerangkan, mayoritas warganya memang menjadi petani. Dia mengakui musim kemarau menjadi hal yang menakutkan bagi mereka.

"Kami butuh bantuan sumur bor dan normalisasi waduk, jika itu sudah dilakukan maka petani akan makmur," terangnya.

Sebenarnya pemerintah desa telah berupaya untuk peningkatan infrastruktur pertanian. Bahkan saat ini, kondisi drainase dan jalan usaha tani (JUT) sudah bagus.

Dia berharap ada bantuan pengeboran sumur yang sekiranya suplai airnya bagus di beberapa titik.

"Kami butuh bantuan sumur bor dari dinas setempat serta normalisasi waduk yang merupakan wewenang Provinsi," pungkasnya.(yud/han)

Editor : Hany Akasah
#kekeringan #balongpanggang #gresik #Pertanian #Tanam #kangkung