RADAR GRESIK – Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Gresik mencatat hasil positif seiring masuknya musim panen raya padi di berbagai wilayah. Produksi gabah di tingkat petani dilaporkan melimpah di tengah prediksi ancaman musim kemarau panjang.
Hal ini didukung faktor cuaca yang masih sering diselingi hujan, serta adanya kebijakan ketetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang menjaga nilai jual gabah tetap menguntungkan para petani lokal.
Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dispertan Kabupaten Gresik, Choirul Fatikin, memaparkan data hingga periode Juni 2026, total luas tanam padi di Kabupaten Gresik telah menembus angka 4.826,96 hektare.
Baca Juga: Gelar Sidang TPP, Rutan Gresik Usulkan Hak Integrasi bagi 21 Warga Binaan
Sementara itu, untuk akumulasi luas lahan yang telah memasuki masa panen raya sukses mencapai 15.483,71 hektare, dengan total volume produksi gabah kering panen sebesar 98.822,58 ton.
Menurut Choirul, meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya sempat memprediksi musim kemarau panjang bakal melanda sejak Mei 2026, kondisi di lapangan justru berbeda.
Anomali cuaca berupa guyuran hujan yang masih sesekali turun dalam beberapa pekan terakhir justru memberikan dampak yang sangat positif terhadap pemenuhan kebutuhan air fase pertumbuhan tanaman padi, sehingga hasil panen akhir dapat digenjot secara maksimal.
“Selain kuantitas dan kualitas hasil panen yang tergolong baik, para petani saat ini juga sangat diuntungkan karena pemerintah secara resmi telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk komoditas gabah. Kebijakan ini membuat kepastian harga di tingkat bawah jauh lebih terjamin dari permainan tengkulak,” kata Choirul, Selasa (7/7/2026).
Baca Juga: Kawal Kepulangan Pekerja Migran di Pendopo Gresik, Nila Yani Tegaskan Komitmen Perlindungan WNI
Guna mengantisipasi puncak musim kemarau yang diperkirakan bakal berlangsung lebih lama pada sisa tahun ini, Dispertan Kabupaten Gresik mengimbau keras agar para petani mulai disiplin menerapkan pola usaha tani yang sesuai dengan kondisi spesifik karakteristik wilayah masing-masing.
Salah satunya adalah dengan beralih memilih varietas benih padi yang berumur genjah atau berumur pendek.
“Pemerintah daerah melalui penyuluh lapangan terus konsisten melakukan pengawalan ketat terhadap fase pertanaman di lapangan. Kami juga mendorong petani agar aktif dalam kelompok tani (poktan), terbuka terhadap adopsi penerapan teknologi pertanian modern, menumbuhkan regenerasi petani milenial, serta memastikan pasokan ketersediaan pupuk bersubsidi tetap aman terjaga,” urainya.
Baca Juga: Kawal Kepulangan Pekerja Migran di Pendopo Gresik, Nila Yani Tegaskan Komitmen Perlindungan WNI
Di sisi lain, sokongan penuh terhadap penguatan sektor pertanian daerah ini juga datang dari jajaran TNI Angkatan Darat. Seperti yang ditunjukkan oleh Babinsa Koramil 0817/11 Duduksampeyan, Serka Pujiyanto.
Dirinya terjun langsung mendampingi para petani binaan yang tergabung dalam Poktan Desa Setrohadi, Kecamatan Duduksampeyan, saat melaksanakan panen raya padi sebagai bagian dari komitmen mendukung program ketahanan pangan nasional.
Aksi pendampingan lapangan oleh personel TNI tersebut tidak hanya bertujuan membantu mempercepat kelancaran proses panen fisik saja, melainkan juga ikut memantau pergerakan hasil produksi total serta stabilitas perkembangan harga gabah basah yang berlaku di tingkat petani bawah.
Serka Pujiyanto mengungkapkan, kehadiran intensif Babinsa di tengah masa panen menjadi kesempatan emas untuk mengetahui secara riil tingkat keberhasilan budidaya padi di wilayahnya.
Sekaligus, menjadi wadah untuk mengidentifikasi berbagai kendala teknis yang masih dihadapi petani, mulai dari fluktuasi harga jual gabah, rantai distribusi hasil panen, hingga pemenuhan kebutuhan sarana prasarana pertanian.
“Babinsa tidak hanya hadir memberikan semangat saat kegiatan awal tanam saja, melainkan wajib mendampingi secara penuh hingga masuk masa panen tiba. Dengan pola terjun langsung begini, kami dapat mengetahui kondisi riil hambatan di lapangan, sekaligus menampung langsung aspirasi para petani untuk kemudian diteruskan ke komando atas sebagai bahan evaluasi taktis mendukung program ketahanan pangan,” pungkasnya. (jar/han)
Editor : Hany Akasah