RADAR GRESIK – Tradisi unik dan penuh semangat menyambut Hari Raya Idul Adha 1446 H kembali digelar di Kalitutup, Kelurahan Sukodono, Kecamatan Gresik. Acara bertajuk "Culture and Tradition Eid Adha 2025" yang dikenal dengan Qurban Runners 1K ini, sukses menarik perhatian ribuan warga.
Lomba arak-arakan kambing kurban ini tak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjadi ajang promosi peternakan unggul Kabupaten Gresik.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Kabupaten Gresik, Eko Anindito Putra, mengungkapkan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan ini.
"Alhamdulillah kepada masyarakat semua. Ini pertama kali kami mengadakan dengan seluruh warga, dan kami mohon maaf jika ada kekurangan. Mudah-mudahan ke depan bisa lebih baik lagi," ujar Eko
Eko juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang berpartisipasi. Ia menekankan bahwa kehadiran Pemerintah Daerah dalam acara ini bertujuan untuk menjaga kesehatan hewan qurban.
"Terima kasih, ternyata Gresik bersama panjenengan semua berkontribusi besar bagi Kabupaten Gresik," tambahnya.
Sejak diinisiasi oleh warga Kalitutup, kegiatan ini telah berkembang menjadi ikon budaya lokal yang selalu dinantikan masyarakat.
Tak hanya melestarikan budaya, gelaran ini juga didorong sebagai sarana pemberdayaan ekonomi lokal, khususnya di sektor peternakan kambing. Kehadiran Dinas Pertanian Kabupaten Gresik tahun ini juga membawa pesan penting kepada generasi muda.
Dispertan Gresik mendorong para pemuda untuk melihat sektor peternakan, terutama kambing, sebagai peluang usaha potensial. Hal ini diharapkan dapat membantu mengurangi angka pengangguran serta mendorong kemandirian ekonomi desa.
Plt. Bupati Gresik, Asluchul Alif, yang turut hadir, menyampaikan apresiasinya atas partisipasi aktif masyarakat dan kolaborasi lintas sektor.
"Kegiatan seperti ini tidak hanya penting untuk melestarikan budaya lokal, tetapi juga menjadi pemicu tumbuhnya sektor peternakan rakyat, khususnya kambing, yang memiliki potensi besar di Gresik. Melalui kreativitas masyarakat, kita bisa melihat bagaimana tradisi mampu menjadi penggerak ekonomi," ujar Alif. (jar/han)
Editor : Hany Akasah